<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611</id><updated>2011-04-21T19:32:52.033-07:00</updated><category term='Bila Wanita Tak Pintar Masak'/><category term='Indahnya Malam Pertama'/><category term='Ilmu'/><category term='MEMETIK SECUIL FAIDAH DARI BUKU “Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd”'/><category term='fatwa'/><category term='fiqih'/><category term='muamalah'/><category term='Siapakah Ahlul Hadits'/><category term='manhaj'/><category term='Wahai Mujahidin'/><category term='MUKJIZAT EMBRIOLOGI DI DALAM AL-QUR’AN'/><category term='lihatlah siapa temanmu'/><category term='tazkiyatun nufus'/><category term='aqidah'/><title type='text'>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</title><subtitle type='html'>Ahlus_Sunnah Waljama'ah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-7441240337143365995</id><published>2008-04-24T22:01:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T22:04:00.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu'/><title type='text'>Tahapan Belajar Ilmu Syar'i</title><content type='html'>&lt;p style="margin: 0.5cm; text-indent: 0.5cm; line-height: 100%; color: rgb(51, 255, 51);" align="center" lang="fi-FI"&gt;&lt;a href="http://syifasalsabila.wordpress.com/2008/04/25/tahapan-tahapan-dalam-belajar-ilmu-syari/"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:medium;"&gt;&lt;strong&gt;Tahapan-tahapan dalam belajar ilmu syar’i&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.5cm; text-indent: 0.5cm; line-height: 100%; color: rgb(51, 255, 51);" align="center" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.5cm; text-indent: 0.5cm; line-height: 100%; color: rgb(51, 255, 51);" align="left" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Banyak pertanyaan tentang tata cara menuntut ilmu, ilmu apa yang pertama kali harus dipelajari oleh orang yang ingin menuntut ilmu dan matan apa yang pertama kali harus dihafal? Bagaimana pengarahan Anda bagi para penuntut ilmu tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.5cm; text-indent: 0.5cm; line-height: 100%; color: rgb(51, 255, 51);" align="left" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak pertanyaan tentang tata cara menuntut ilmu, ilmu apa yang pertama kali harus dipelajari oleh orang yang ingin menuntut ilmu dan matan apa yang pertama kali harus dihafal? Bagaimana pengarahan Anda bagi para penuntut ilmu tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="more-42"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Beliau menjawab:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama dan sebelum saya memberikan pengarahan kepada para penuntut ilmu tersebut, saya ingin mengarahkan mereka terlebih dahultieagar mereka menuntut ilmu dari seorang syaikh yang berilmu karena mencari ilmu dari seorang alim terkandung dua faedah yang agung:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lebih efektif karena seorang alim mempunyai daya telaah dan pengetahuan dan memberikan ilmu kepadamu dengan ilmu yang matang dan mudah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mencari ilmu dari seorang yang alim akan lebih dekat kepada kebenaran, dalam arti orang yang menuntut ilmu kepada seorang yang bukan alim akan menimbulkan sikap mengada-ada dan pendapat-pendapat yang syadz (menyimpang/ganjil) yang jauh dari kebenaran. Hal itu disebabkan karena dia tidak membaca kitab di hadapan orang alim yang ilmunya mendalam sehingga bisa mendidiknya di atas jalan yang dipilihnya.&lt;br /&gt;Maka menurut pendapat saya, seseorang harus bersungguhsungguh memiliki seorang guru untuk mencari ilmu, karena jika dia memiliki guru maka guru tersebut akan mengarahkannya dengan pengarahan yang menurutnya sesuai dengan murid (yang diajarnya).&lt;br /&gt;Adapun jawaban bagi pertanyaan di atas, maka secara umum kita katakan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lebih utama bagi seseorang untuk menghafal Kitabullah sebelum kitab lainnya karena ini merupakan kebiasaan para Sahabat radhiallahu?anhum. Mereka tidak bergeser dari sepuluh ayat pertama sebelum mereka mempelajari (menghafal) ilmu yang terkandung di dalamnya serta mengamalkannya. Dan Kalamullah adalah kalam yang paling sempurna secara mutlak.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dia harus mengambil matan (redaksi) hadits-hadits ringkas yang akan menjadi simpanan baginya ketika berdalil dengan Sunnah, seperti `Umdatul Ahkaam, Buluughul Maraam, al Arba’iin An Nawawiyyah dan yang semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menghafal matan-matan fiqih yang sesuai dengan dirinya dan matan yang paling bagus yang kita hafal adalah Zaadul Mustaqni’ fii Ikhtishaaril Muqni’ karena (syarah) kitab ini telah dikerjakan oleh pensyarahnya Manshur bin Yunus al-Bahuthi dan orang-orang setelahnya dari orang-orang yang mengerjakan syarah dan matan kitab ini dengan catatan kaki yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nahwu. Tahukah engkau apa itu nahwu yang tidak diketahui oleh para penuntut ilmu kecuali hanya sedikit saja di antara mereka sehingga engkau melihat seseorang telah lulus dari satu fakultas dalam keadaan tidak mengetahui ilmu nahwu sedikit pun, persis seperti apa yang digambarkan oleh seorang penya’ir: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.5cm; text-indent: 0.5cm; line-height: 100%; color: rgb(51, 255, 51);" dir="rtl" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;strong&gt;لا بارك الله في النحو ولا أهله &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;strong&gt;* &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;strong&gt;إذا كان منسـوبا إلى نفطويه &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;strong&gt;أحـرقه الله بنصـف اسـمه &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;strong&gt;* &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;strong&gt;وجعل الباقي صـراخاً عليه &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.5cm; text-indent: 0.5cm; line-height: 100%; color: rgb(51, 255, 51);" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah tidak memberi barakah dalam nahwu dan ahlinya&lt;br /&gt;Apabila dia dinisbatkan kepada omongan yang tidak terfahami&lt;br /&gt;Semoga Allah membakarnya dengan separuh namanya&lt;br /&gt;Dan menjadikan sisanya sebagai teriakan atasnya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;Mengapa penya’ir ini berkata demikian? Jawabnya karena dia lemah tentang nahwu. Tetapi saya katakan bahwa pintu nahwu itu pintunya dari besi, sedangkan lorongnya adalah benang emas. Artinya dia amat keras dan sukar ketika pertama kali memasukinya tetapi jika pintunya telah terbuka bagi orang yang mencarinya, dia akan merasakan kemudahan pada langkah selanjutnya dengan semudah-mudahnya sehingga jadilah dia sesuatu yang mudah baginya, sehingga beberapa penuntut ilmu yang baru memulai dalam mempelajari nahwu menjadi terpikat. Maka jika engkau berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang biasa, dia akan mengi’rabnya (mengurainya) agar terlatih dalam hal i’rab. Di antara matan nahwu yang paling baik adalah al-Aajuruumiyyah, sebuah kitab yang ringkas tetapi sangat terfokus (padat). Oleh karena itu saya nasihatkan bagi para pemula untuk memulai dengan kitab ini. Maka inilah pokok-pokok yang harus dijadikan landasan bagi para penuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelima&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang berhubungan dengan ilmu tauhid, maka kitab-kitab tentang masalah ini amatlah banyak. Di antaranya: Kitaabut Tauhiid karya Syaikhul Islam Muhammad bin `Abdil Wah-hab rahimahullah, al-Aqiidah al-Waasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab ini sangat banyak dan sangat dikenal, wal hamdulillah&lt;br /&gt;Dan nasihat umum bagi para penuntut ilmu bahwa ilmunya harus berdampak terhadap dirinya berupa takwa kepada Allah melaksanakan ketaatan kepada-Nya, berakhlak mulia, ihsan (berbuat baik) kepada sesama makhluk dengan cars mengajar, membimbing, dan gigih dalam menyiarkan ilmu melalui berbagai media, baik melalui koran, majalah, kitab-kitab, risalah, buletin dan media lainnya.&lt;br /&gt;Saya pun menasihatkan kepada para penuntut ilmu agar tidak tergesa-gesa dalam menghukumi (memvonis) sesuatu. Karena sebagian penuntut ilmu yang masih pemula engkau lihat tergesa-gesa dalam berfatwa dan menetapkan hukum. Dan terkadang menyalahkan para ulama besar sedangkan dia (memiliki tingkatan yang) jauh di bawah para ulama tersebut, sehingga beberapa orang mengatakan, Saya berdebat dengan salah seorang penuntut ilmu yang masih pemula, lalu saya katakan kepadanya bahwa ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Maka dia berkata, Siapa Imam Ahmad bin Hanbal? Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki, kita pun laki-laki. Subhanallaah!!. Memang benar Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki dan engkau laki-laki sehingga kalian berdua sama dalam hal kelaki-lakiannya, adapun dalam hal ilmu maka antara kalian berdua terdapat perbedaan yang amat jauh. Tidak semua laki-laki layak dianggap sebagai laki-laki dalam hal ilmu.&lt;br /&gt;Saya katakan: Seorang penuntut ilmu wajib bertatakrama dengan sikap tawadhu’, tidak merasa ta’jub dengan diri sendiri, dan hendaklah mengetahui kemampuan diri.&lt;br /&gt;Di antara hal yang penting bagi seorang penuntut ilmu: janganlah dia banyak menelaah pendapat para ulama, karena jika engkau banyak menelaah pandapat para ulama dan menelaah al-Mughni dalam masalah fiqih karya Ibnu Qudamah, al-Majmuu’ karya anNawawi, dan kitab-kitab besar yang menerangkan ikhtilaf dan engkau mendiskusikannya, maka engkau akan sia-sia (rusak). Mulailah pertama kali, seperti yang telah saya katakan, dengan matan-matan yang ringkas, sedikit demi sedikit sehingga engkau akan sampai kepada tujuan. Adapun jika engkau ingin menaiki pohon dari rantingnya, maka ini adalah salah.&lt;br /&gt;(Diambil dari Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-7441240337143365995?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/7441240337143365995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=7441240337143365995' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/7441240337143365995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/7441240337143365995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/04/tahapan-belajar-ilmu-syari.html' title='Tahapan Belajar Ilmu Syar&apos;i'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-2478884431703750807</id><published>2008-03-02T16:06:00.001-08:00</published><updated>2008-03-02T16:06:58.732-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fatwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiqih'/><title type='text'>Bahayanya Media &amp; Sarana Porno</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://wahonot.wordpress.com/2008/02/05/bahayanya-media-sarana-porno/" rel="bookmark" title="Bahayanya Media &amp;amp; Sarana Porno"&gt;Bahayanya Media &amp;amp; Sarana Porno&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="postinfo"&gt; Ditulis pada &lt;span class="postdate"&gt;Februari 5, 2008&lt;/span&gt; oleh wahonot     &lt;/div&gt;             &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Oleh : Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” [QS. An Nur : 19].&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Segala puji hanya milik Allah semata, dan sholawat dan salam atas nabi kita Muhammad dan atas keluarganya dan para sahabanya, dan selanjutnya :&lt;br /&gt;Sesungguhnya kaum muslimin dewasa ini telah ditimpa oleh cobaan yang besar. Musibah-musibah telah mengepung mereka dari segala penjuru. Kebanyakan kaum muslimin pun telah terjerumus di dalammya. Kemungkaran di mana-mana dan manusia pun telah terang-terangan berbuat maksiat tanpa ada rasa takut dan malu. Sebabnya adalah : sikap remeh terhadap agama Allah dan tidak adanya pengagungan terhadap hukum dan ajaran-Nya serta lalainya kebanyakan dari orang-orang yang sholeh untuk menegakkan syari’at Allah dan amar makruf dan nahi mungkar. Sesungguhnya tiada solusi bagi kaum muslimin dari bencana dan musibah ini kecuali dengan taubat yang benar kepada Allah Ta’ala dan mengagungi segala perintah dan larangannya. Mencegah tangan-tangan yang jahil dan memberikan sanksi kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span id="more-237"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Sesungguhnya musibah yang terbesar yang tampak pada dewasa ini adalah apa yang dinamakan dengan pornografi dan agen-agen kekejian serta penyebar kemungkaran di kalangan kaum mukminin. Dengan menerbitkan media-media keji, gambar porno, adegan film porno yang menentang Allah dan Rasul-Nya pada perintah dan larangan-Nya. halaman-halamannya gambar-gambar telanjang dan wajah-wajah yang menggoda yang membangkitkan nafsu syahwat, dan mengajak kepada kerusakkan. Telah dibuktikan dengan penelitian yang dalam bahwa semua ini, baik via majalah, internet, dan lainnya ini mencakup metode-metode yang banyak dalam mengiklankan kejahatan dan maksiat serta membangkitkan nafsu syhwat dan pelampiasannya pada apa-apa yang yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Seperti yang tercantum dibawah ini :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;[1] Gambar-gambar seksi di majalah dan di dalamnya, termasuk video porno yang meraja lela di tengah masyarakat kemudian disebar luaskan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;[2] Wanita-wanita dengan seluruh perhiasaannya yang mengoda dan menggairahkan.&lt;br /&gt;[3] Ucapan-ucapan yang kotor, untaian puisi dan kalimat yang jauh dari etika malu dan kemuliaan yang menghancurkan akhlak dan merusak umat. ucapan yang bernada porno.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;[4] Cerita-cerita roman yang keji, dan berita-berita artis dan aktor, penari laki-laki dan wanita dari kalangan orang-orang yang suka berbuat maksiat.&lt;br /&gt;[5] Dalam media ini terdapat seruan yang terang-terangan untuk mempertontonkan kecantikan kepada orang lain, bersolek dan bercampurbaurnya antara laki-laki dan wanita serta pengoyakkan hijab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;[6] Pameran busana-busana seksi yang menutup tapi hakikatnya telanjang kepada kaum wanita mukminin untuk mengajak mereka kepada telanjang dan buka-bukaan serta menyerupai para pelacur dan pelaku maksiat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;[7] Dalam ini terdapat rangkulan, pelukan dan ciuman antara laki-laki dan wanita.&lt;br /&gt;[8] Di dalamnya terdapat perkataan-perkataan yang bergejolak yang membangkitkan nafsu seksual yang mati pada jiwa para pemuda dan pemudi, sehingga mendorong mereka dengan segala kekuatan untuk menempuh jalan kesesatan, melenceng dan jatuh di dalam perzinahan, perbuatan dosa, pacaran dan cinta yang menggebu-gebu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Entah berapa media yang beracun ini disenangi oleh para pemuda dan pemudi, sehingga mereka binasa karenanya dan keluar dari batas-batas kefitrahan dan agama.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dan sungguh media ini telah merubah hukum-hukum agama dan dasar-dasar kefitrahan yang lurus pada pemikiran kebanyakan manusia disebabkan oleh tulisan-tulisan dan pemikiran-pemikiran yang disebarkannya.&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan manusia telah berani melakukan maksiat, dosa-dosa besar (zina), dan melampaui hukum-hukum Allah disebabkan oleh kecenderungan kepada media-media ini dan pengusaannya terhadap akal dan pemikiran mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 204, 153); line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Walhasil : sesungguhnya media-media ini pokok dasarnya adalah perdagangan terhadap tubuh wanita yang dibantu oleh syaitan dengan segala faktor yang memikat dan segala sarana yang menggoda dengan tujuan menyebarkan ajaran ibahiyah (menghalalkan seluruh yang haram), merobek-robek kehormatan, dan merusak para wanita kaum mukminin, dan merubah masyarakat islami menjadi perkumpulan binatang (kumpul kebo) yang tidak mengenal ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, dan tidak menegakkan syari’at Allah yang suci sedikitpun, bahkan kepala pun tidak diangkat terhadap ajaran ini. Seperti kondisi kebanyakan masyarakat, bahkan perkaranya sampai kepada bersenang-senang dua jenis insan (laki-laki dan wanita) dengan cara telanjang bulat, yang mereka namakan “ kota telanjang “, semoga Allah melindungi kita dari fitrah yang terbalik dan keterjerumusan di dalam apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Inilah … dan berdasarkan kepada yang telah disebutkan di atas, tentang realita majalah-majalah ini dan dampak-dampaknya serta tujuannya yang keji dan karena banyaknya berita yang datang ke meja Lembaga ini dari kalangan orang-orang yang mempunyai ghairah (kecemburuan) terhadap agama dari kalangan ulama dan penuntut ilmu serta seluruh kaum muslimin tentang bersebarnya penayangan majalah-majalah ini di toko-toko buku dan supermarkat serta tempat-tempat perdagangan, maka sesungguhnya :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Seorang muslim wajib memejamkan matanya dari melihat gambar dan tayangan yang merusak itu demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan demi menjauhi bencana dan tempat-tempatnya. Kepada seseorang janganlah mendakwakan terhadap dirinya terjaga dari dosa sungguh Rasulullah memberitahukan bahwa &lt;em&gt;“Sesungguhnya syaitan itu mengalir di tubuh anak adam seperti mengalirnya darah”.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 204, 153); line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Imam Ahmad –rahimahullah- berkata :” Entah berapakah suatu pandangan yang menimbulkan bencana di hati orang yang melihat itu”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 204, 153); line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka barang siapa yang tergantung dengan apa yang terdapat di dalam media itu dari gambar-gambar dan yang lainnya telah merusak hatinya dan kehidupannya serta memalingkannya kepada hal-hal yang tidak bermanfaat baik dunia maupun akhirat. Karena, baiknya hati dan kehidupannya hanya disebabkan oleh ketergantungan dengan Allah dan mengibadatinya, lezatnya bermunajah kepadanya dan ikhlas serta penuhnya kecintaannya kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Barang siapa yang dipilih Allah menjadi pemimpin di negeri Islam manapun wajib memberikan nasehat kepada kaum muslimin dan menjauhkan mereka dari kerusakan dan pelakunya dan menjauhkan mereka dari segala yang membahayakan mereka di dalam agama dan dunia mereka. Di antaranya melarang media yang merusak ini untuk disebar dan jual-belikan. Dan menahan kerusakannya dari mereka. tindakan ini merupakan menolong Allah dan agama-Nya. Dan merupakan sebab kemenangan dan keberhasilan dan menguasai bumi sebagaimana firman Allah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”&lt;/em&gt; [Al Hajj : 40-41]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;[Keterangan Dari Lembaga tetap Kajian Ilmiyah dan Fatwa]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-2478884431703750807?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/2478884431703750807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=2478884431703750807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/2478884431703750807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/2478884431703750807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/bahayanya-media-sarana-porno.html' title='Bahayanya Media &amp; Sarana Porno'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-2124055335839728048</id><published>2008-03-02T16:03:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T16:05:36.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manhaj'/><title type='text'>Da’i Artis atau Artis Da’i ?</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://wahonot.wordpress.com/2008/02/11/dai-artis-atau-artis-dai/" rel="bookmark" title="Da’i Artis atau Artis Da’i ?"&gt;Da’i Artis atau Artis Da’i ?&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="postinfo"&gt; Ditulis pada &lt;span class="postdate"&gt;Februari 11, 2008&lt;/span&gt; oleh wahonot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;dicopy dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;             &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p style="margin: 0pt; line-height: 135%; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span class="small1"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; line-height: 135%; font-family: Tahoma;"&gt;Oleh:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; line-height: 135%; font-family: Tahoma;"&gt; Ustadz Abu Umar Basyir&lt;span class="small1"&gt;&lt;span style="line-height: 135%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 135%; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span class="small1"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 135%; font-family: Tahoma;"&gt;Ditulis oleh Administrator elfata&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 135%; text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span class="small1"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 135%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Sebenarnya, kita tidak punya dalil secuil pun untuk mengatakan bahwa seorang artis tak boleh menjadi da’i. Justru setiap muslim dan muslimah, siapa pun dia, wajib meleburkan diri dalam tugas dakwah. Setiap kita wajib mengajak ke jalan Allah, biarpun ia seorang artis. Namun persoalannya, layakkah seseorang berdakwah, dan ia tetap memilih untuk menjadi artis? Memang, akan tergantung pada definisi apa yang disebut sebagai artis. Tapi mengacu pada komentar seorang produser film tanah air saat menyanggah pandangan AA Gim, yang menentang (mengkhawatirkan) kemunculan film Buruan Cium Gue, “Kalau dasar ajaran agama yang dijadikan pegangan, sebenarnya di Indonesia ini tidak ada filem yang halal…” maka mudah pula kita memahami apa arti artis, dalam pengertian yang umum dalam budaya masyarakat moderen kita. &lt;span id="more-240"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Kewajiban Berdakwah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Kata dakwah, diambil dari da’wah yang memiliki arti mengajak atau memanggil. Da’wah ilallah, artinya adalah mengajak ke jalan Allah.&lt;br /&gt;Da’i adalah subjek dari dakwah. Artinya, orang yang melakukan aktivitas dakwah. Dalam bahasa aplikatifnya, orang yang mengajak umat manusia menuju jalan Allah, melalui berbagai cara yang diajarkan syariat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Amar ma’ruf nahi mungkar bisa berarti harfiyyah: memerintahkan perbuatan baik, mencegah perbuatan mungkar. Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bila dakwah merupakan totalitas dari setiap ucapan dan perbuatan yang bernilai ajakan menuju jalan Allah, maka amar ma’ruf nahi mungkar adalah salah satu perwujudannya yang paling praktis. Setiap amar ma’ruf nahi munkar adalah dakwah, tapi tidak setiap dakwah itu amar ma’ruf nahi munkar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Banyak ulama menjelaskan, bahwa dakwah dalam arti sejatinya hanya dapat dilakukan oleh para ulama. Yang dapat dilakukan oleh masyarakat awam hanyalah amar ma’ruf nahi munkar, yang dalam makna mikronya bisa juga disebut dakwah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Meski dapat dilakukan orang awam, tetap saja amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara benar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Ibnu Taimiyyah menegaskan, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Hendaknya amar ma’ruf yang kalian lakukan betul-betul dilakukan dengan ma’ruf, dan jangan sampai nahi munkar yang kalian lakukan justru menjadi kemunkaran . &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Amar Ma’ruuf Nahi Munkar oleh Ibnu Taimiyyah hal. 39&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Kita juga tahu sebuah hadits yang amat populer, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, yang berbunyi, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Masing-masing kalian adalah penanggungjawab. Dan masing-masing akan bertanggungjawab atas apa yang menjadi tanggungjawabnya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka, kita pun sadar bahwa dakwah itu adalah kewajiban kita bersama. Terlepas dari profesi apa yang kita geluti, di manapun kita berada, dalam masyarakat apapun kita hidup, kita tetap wajib berdakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Setiap ajaran Islam yang sudah kita amalkan, seperti shalat, wajib kita dakwahkan kepada orang lain yang belum melaksanakannya, atau kurang menyadari akan tingkat kewajibannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dakwah dan Profesi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Yang menjadi persoalan, sekarang ini sudah demikian tipis garis pembeda antara dakwah dengan profesi. Karena di manapun ruang dakwah dibangun, dan kegiatan dakwah digelar, selalu saja ada kesempatan untuk mencari uang. Di luar soal kontroversi apakah seorang juru dakwah boleh mengambil upah dari dakwah yang dia sampaikan dalam bentuk buku, ceramah, vcd dan sejenisnya, dan kalaupun kita sepakat bahwa dalam batas-batas tertentu itu diperbolehkan, jelas, kehadiran fulus di berbagai lini dakwah, semakin memperluas ruang untuk menipisnya nilai-nilai keikhlasan. Kesimpulan ini mungkin mudah dibantah secara logika atau pendalilan, tapi akan sangat sulit dibantah dengan catatan realitas dalam dunia dakwah. Ibarat bahaya kebanyakan makan cabai, bisa dibantah secara teori, tapi realitas banyaknya orang sakit perut karena kebanyakan makan cabai, akhirnya akan menghentikan perdebatan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seyogyanya dia cari untuk mengharap dapat melihat wajah Allah, namun ia justru mencarinya untuk mengejar sebagian kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan ‘arf atau baunya Surga di Hari Kiamat nanti. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3667), dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (II : 412).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;  Ini sungguh merupakan peringatan yang hebat, yang mungkin akhir-akhir ini semakin jelas makna dan kandungannya, setelah berbagai realitas membantu menggambarkannya. Betapa banyak orang yang mendalami ilmu, hanya untuk mengejar gelar akademis, titel, untuk kemudian pengakuan publik, dan ujung-ujungnya mudah mencari fulus, atau yang dekat-dekat ke arah itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Di luar soal halal atau haramnya mengais duit dari ilmu-ilmu akhirat, realitas seringkali membuktikan, bahwa banyak konflik terjadi di dunia dakwah, karena soal uang. Banyak para juru dakwah yang matanya ‘tertutup’ oleh godaan dunia, sehingga hidupnya selalu dipenuhi dengan kesulitan, dan kerepotan habis-habisan mengejar keping demi keping keduniaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Barangsiapa yang cita-citanya adalah dunia, pasti segala urusannya akan Allah cerai-beraikan, dan kemiskinan akan selalu terbayang di hadapan matanya. Sementara dunia yang dia dapatkan sebatas yang Allah tetapkan saja. Sedangkan orang yang cita-citanya adalah akhirat, pasti segala urusannya akan Allah lengkapi, dan kekayaan akan selalu terbayang dalam hatinya. Sementara dunia sendiri akan datang kepadanya dengan tertunduk . &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (4105). Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (II : 393). Sementara dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah (950)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Siapa Tertarik Jadi Da’i?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Di akhir zaman, memang banyak ilmu akhirat yang bisa diuangkan. Maka, wajar bila banyak pihak akhirnya tertarik menjadi da’I, bukan karena dorongan naluri berdakwah dan tuntutan iman, tapi lebih karena peluang mengais rupiah dari ilmu-ilmu akhirat, yang betapapun sederhananya, meski hanya sekadar mampu membaca beberapa potong ayat dan hadits berikut arti-artinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu diriwayatkan bahwa ia pernah bertutur, “Apa yang akan kalian lakukan bila pelbagai bencana menyelimuti kalian? Saat itu, anak-anak bayi beranjak dewasa, dan kaum tua sudah mulai pikun, yang bukan sunnah dijadikan ajaran. Kalau ajaran itu diubah, akan dianggap sebuah kemungkaran.”&lt;br /&gt;Ada seorang lelaki bertanya, “Kapan itu terjadi?” Beliau menjawab,  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Yakni bila orang-orang yang menjaga amanah semakin jarang, para pemimpin semakin banyak, sementara ahli fiqih semakin sedikit, qari semakin banyak, namun ilmu dipelajari bukan karena tuntutan agama, bahkan dunia pun dicari dengan ilmu-ilmu akhirat . &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi (I : 75-76), dinyatakan shahih oleh Al-Albani dengan sanad Ad-Daarimi dalam Shahih At-Targhieb wat Tarhieb (I : 48). Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf (II : 359), secara mauquf pada Abdullah dengan sanad terputus. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka, kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, “Layakkah seorang artis menjadi da’i?”&lt;br /&gt;Jawabannya akan singkat saja: bukan hanya pantas, tapi harus dan wajib. Namun setelah menjadi da’i, hendaknya ia memikirkan ulang tentang professinya sebagai artis. Dalam blantika dunia hiburan di tanah air, profesi artis sungguh bukan lahan bagus untuk mengembangkan keimanan, tapi justru merusakan sarang-sarang kemaksiatan yang harus dihindari seorang da’i.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Sebab, setelah menjadi juru dakwah, seseorang harus bisa menjadi teladan bagi orang yang dia dakwahi, siapa pun adanya orang tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Muhammad bin Nauh mengatakan kepada Abu Abillah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Wahai Abu Abdillah! Allah, Allah, engkau tidaklah sepertiku. Engkau orang yang dijadikan teladan. Banyak umat manusia yang berupaya melihatmu, karena apa yang engkau miliki. Bertakwalah kepada Allah, dan teguhkan dalam perintah-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Selain itu, saat sudah berada di jalur dakwah, seseorang harus selalu mengembangkan kwalitas ilmunya dengan belajar dari para penuntut ilmu senior atau para ulama yang punya kredibilitas bagus dalam ketaatan kepada Allah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Adz-Dzahabi pernah berkata, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Kaum As-Salaf dahulu menuntut ilmu, dan karena itu mereka mendapatkan kemuliaan dan menjadi para imam yang patut dijadikan tauladan. Datang pula sebagian di antara mereka untuk menuntut ilmu, dan mereka pun berhasil dan mencapai prestasi hebat. Namun mereka mulai menghisab diri mereka. Ilmu itu berhasil menggiring mereka menuju keikhlasan di tengah perjalanan menuntut ilmu tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Seperti diungkapkan oleh Mujahid dan ulama lainnya, “Kami menuntut ilmu ini di awali dengan tanpa ambisi besar. Namun kemudian Allah mengaruniai ambisi hebat itu di tengah perjalanan.” Salah seorang di antara mereka juga mengungkapkan, “Kami menuntut ilmu ini untuk selain Allah, tapi ilmu ini hanya ingin diniatkan karena Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Wallahu A’lam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;sumber :http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=114&amp;amp;Itemid=1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-2124055335839728048?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/2124055335839728048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=2124055335839728048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/2124055335839728048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/2124055335839728048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/dai-artis-atau-artis-dai.html' title='Da’i Artis atau Artis Da’i ?'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-1668807391723359317</id><published>2008-03-02T15:49:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T15:52:08.148-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tazkiyatun nufus'/><title type='text'>10. Kiat agar dapat sabar</title><content type='html'>&lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-content/themes/pub/neat/images/h1.gif" class="lefth2img" alt="h1" /&gt;&lt;h2 id="post-70"&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.wordpress.com/2008/01/08/10-kiat-agar-dapat-sabar/" rel="bookmark" title="Permanent Link: 10. Kiat agar dapat sabar."&gt;10. Kiat agar dapat sabar.&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;dicopy dari :&lt;br /&gt;http://ustadzkholid.wordpress.com/2008/01/08/10-kiat-agar-dapat-sabar/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;            &lt;small&gt;Januari 8, 2008 &lt;!-- by ustadzkholid --&gt;&lt;/small&gt;                      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Ketika sabar diperintahkan Allah kepada kita semua, maka Diapun adakan sebab-sebab yang membantu dan memudahkan seseorang untuk sabar.&lt;span id="more-70"&gt;&lt;/span&gt; Demikian juga tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali membantu dan mengadakan sebab-sebab yang memudahkan dan membantu pelaksanaannya sebagaimana Ia tidak mentaqdirkan adanya penyakit kecuali menetapkan obatnya. Sabar walaupun sulit dan tidak disukai jiwa, apalagi bila disebabkan kelakuan dan tindakan orang lain. Akan tetapi kesabaran harus ada dan diwujudkan. Ada beberapa kiat yang dapat membantu kita dalam bersabar dengan ketiga jenisnya, diantaranya: 1. mengetahui tabiat kehidupan dunia dan kesulitan dan kesusahan yang ada disana, sebab manusia memang diciptakan berada dalam susah payah, sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. 90:4) 2. beriman bahwa dunia seluruhnya adalah milik Allah dan Dia memberinya kepada orang yang Dia sukai dan menahannya dari orang yang disukaiNya juga. 3. mengetahui besarnya balasan dan pahala atas kesabaran tersebut. Diantaranya: a. Mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firmanNya: Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 2:249) b. Mendapatkan sholawat, rahmat dan petunjuk Allah, sebagaimana firmanNya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157) c. Sabar adalah kunci kesuksesan seorang hamba, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. 3:200). 4. yakin dan percaya akan mendapatkan pemecahan dan kemudahan sebab Allah telah menjadikan dua kemudahan dalam satu kesulitan sebagai rahmat dariNya. Inilah yang difirmankan Allah: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. 94:5-6) 5. Memohon pertolongan kepada Allah dan berlindung kepadaNya, karena Allah satu-satunya yang dapat memberikan kemudahan dan kesabaran, 6. Beriman kepada ketetapan dan takdir Allah dengan meyakini semuanya yang terjadi sudah merupakan suratan takdir. Sehingga dapat bersabar menghadapi musibah yang ada. 7. Ikhlas dan mengharapkan keridhoan Allah dalam bersabar. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS.Al Ra’d 13:22) 8. Mengetahui kebaikan dan manfaat yang ada dalam perintah dan keburukan yang ada dalam larangan. Ibnul Qayyim menyatakan: Apabila seorang mengetahui kebaikan yang ada pada amalan yang diperintahkan dan akibat buruk dan kejelekan yang ada pada amalan yang dilarang sebagaimana mestinya. Kemudian ditambah dengan tekad kuat dan motivasi tinggi serta harga diri maka insya Allah akan dapat bersabar dan semua kesulitan dan kesusahan menjadi mudah baginya. 9. Menguatkan factor pendukung agama dalam setiap kali menghadapi perintah, larangan dan musibah yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan empat perkara: a. Mengagungkan Allah yang maha mendengar dan meilhat. Seorang yang senantiasa ada di hartinya pengagungan terhadap Allah, tentunya dapat bersabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Bagaimana Dzat yang maha agung dimaksiati padahal Dia maha melihat dan mendengar? . b. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, sehingga ia melaksanakan perintah dan meninggalkan kemaksiatan karen mencintai Allah. Demikian juga akan bersabar atas ujian kekasihnya. Hal ini disebabkan orang yang mencintai tentu akan menaati kekasihnya dan tidak ingin dimurkai serta dapat menahan diri atas semua ujian yang diberikan kepadanya. c. Menampakkan dan mengingat nikmat dan kebaikan Allah, sebab orang yang mulia tidak akan membalas kebaikan orang lain dengan kejelekan. Oleh karena itu mengingat nikmat dan karunia Allah dapat mencegah seseorang dari bermaksiat karena malu denganNya dan memotivasi melaksanakan perintahNya serta merasa semua musibah yang menimpanya merupakan kebaikan yang Allah karuniakan kepadanya. d. Mengingat kemarahan, kemurkaan dan balasan Allah, karena Allah akan marah bila hambaNya dan bila murka tidak ada seorangpun yang dapat menahan amarahNya. Sehingga dengan melihat sepuluh kiat dari kiat-kiat bersabar dalam tiga jenis kesabaran ini, mudah-mudahan dapat menjadikan diri kita termasuk orang-orang yang bersabar.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-1668807391723359317?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/1668807391723359317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=1668807391723359317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1668807391723359317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1668807391723359317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/10-kiat-agar-dapat-sabar.html' title='10. Kiat agar dapat sabar'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-1915399488752085998</id><published>2008-03-02T15:48:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T15:50:36.433-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tazkiyatun nufus'/><title type='text'>Hindarilah sifat Hasad !!!</title><content type='html'>&lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-content/themes/pub/neat/images/h1.gif" class="lefth2img" alt="h1" /&gt;&lt;h2 id="post-71"&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.wordpress.com/2008/01/22/hindarilah-sifat-hasad/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Hindarilah sifat Hasad!!!!"&gt;Hindarilah sifat Hasad!!!!&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;di copy dari :&lt;br /&gt;http://ustadzkholid.wordpress.com/2008/01/22/hindarilah-sifat-hasad/#comment-106&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;            &lt;small&gt;Januari 22, 2008 &lt;!-- by ustadzkholid --&gt;&lt;/small&gt;                      &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt; Ujian Allah&lt;br /&gt;Allah memberikan nimmatNya tidak sama pada semua hambaNya, ada yang diberi banyak dan ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hambaNya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api membersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Sehingga dengan ujian ini dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Oleh karena itu janga sampai kita kalah dalam ujian tersebut.&lt;span id="more-71"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adam vs Iblis.&lt;br /&gt;Karena perbedaan inilah, sering timbul sifat-sifat jelek hamba Allah terhadap yang lainnya. Lihat awal perseteruan Adam dan iblis, ketika Iblis melanggar perintah Allah untuk sujud kepada Adam disebabkan perasaan hasadnya terhadap Adam. Ia merasa Allah tidak adil dalam perintah tersebut, bagaimana tidak? –menurut Iblis-. Ia yang lebih baik dan pantas dari Adam mendapat kemuliaan tersebut, kok malahan diminta sujud padanya, sampai ia mengatakan:&lt;br /&gt;:”Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. 7:12)&lt;br /&gt;Perseteruan itu ada disebabkan hasad kepada Adam yang telah Allah muliakan. Akibatnya Allah kutuk Iblis dan menjadikannya musuh anak Adam sampai hari kiamat.&lt;br /&gt;Demikian juga permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin, sehingga mereka mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk menjauhkan kaum mukmin dari keimanan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya:&lt;br /&gt;Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa itu Hasad?&lt;br /&gt;Hasad atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah baik dengan keinginan kenikmatan tersebut hilang darinya atau tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan milik orang lain maka ini merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya Iblis kepada Adam.&lt;br /&gt;Sifat hasad ini dapat digambarkan dengan contoh, misalnya tetangga kita memiliki kelebihan harta benda, atau anak atau istri yang cantik jelita atau memiliki kedudukan dan nama baik dimasyarakat, lalu kita iri dan dengki kepadanya, baik berusaha jelek merusaknya ataupun tidak. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat dzolim kepada tetangganya, bahkan juga ngosipin dan menjelek-jelekkannya didepan orang lain. Tentu ini akan menjadikan suasana bermasarakat yang tidak kondusif dan buruk sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;10 Bahaya Hasad&lt;br /&gt;Hasad sangat berbahaya sekali, diantara bahayanya adalah:&lt;br /&gt;1. hasad merupakan sifat orang yahudi yang Allah laknat, sehingga siapa yang memilikinya berarti telah menyerupai mereka. Allah berfirman tentang hal ini:&lt;br /&gt;Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (QS. 4:54)&lt;br /&gt;2. orang yang memiliki sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Padahal Rasululloh bersabda:&lt;br /&gt;tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai cinta untuk saudaranya seperti cinta untuk dirinya. (Muttafaqun Alaihi) bahkan lebih dari itu orang yang hasad sangat bahagia dan senang bila saudaranya celaka dan binasa.&lt;br /&gt;3. Ada dalam sifat hasad ini ketidak sukaan terhadap taqdir yang Allah berikan kepadanya, sebab siapa yang memberikan nikmat kepada orang lain tersebut? Tentu saja Allah. Seakan-akan ia ingin ikut berperan aktif dalam penentuan takdir Allah dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari orang lain.&lt;br /&gt;4. Setiap orang lain mendapatkan kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.&lt;br /&gt;5. menimbulkan sekap egois yang tinggi dan tidak menyukai kebaikan pada orang lain&lt;br /&gt;6. Hasad memakan dan melumat kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasululloh dalam sabdanya:&lt;br /&gt;Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar (riwayat Abu daud)&lt;br /&gt;7. menyusahkan diri sendiri sebab ia tidak mampu merubah sedikitpun takdir Allah. Allah telah memberikan nikmat pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang yang hasad tersebut. Walaupun ia telah berusaha dengan mencurahkan seluruh kesungguhan dan kemampuannya tidak akan mungkin merubah takdir Allah yang sudah ditetapkan. Sehingga semua usahanya hanyalah sia-sia belaka.&lt;br /&gt;8. hasad mencegah pemiliknya dari berbuat amal kebaikan dan kemanfaatan. Hal ini karena ia selalu sibuk dengan memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan bagaimana cara menghilangkannya.&lt;br /&gt;9. hasad dapat memecah persatuan, kesatuan dan persaudaraan kaum muslimin. Memang demikian, karena itulah Rasululloh bersabda:&lt;br /&gt;Janganlah saling hasad dan berbuat najasy dan janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian bersaudara. (riwayat Muslim)&lt;br /&gt;10. hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah gulana dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada orang ;ain yang memiliki kelebihan darinya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Rasululloh melarang kita melakukan perbuatan hasad ini.&lt;br /&gt;Alangkah mengerikan bahaya dan kerusakan yang timbul dari dengki (hasad) ini. Oleh karena itu marilah kita berusaha menanggalkan dan menghilangkannya dari diri kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;10 Kiat menghindari dan mencegah sifat Hasad.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui bahayanya, tentunya kita harus berusaha menghindari dan manjauhkan diri dari sifat yang satu ini. Untuk itu perlu melihat kiat-kiat berikut ini:&lt;br /&gt;1. Belajar dan memahami aqidah islam yang benar, baik tentang keimanan ataupun syari’at serta nmengamalkannya. Kebenaran aqidah merupakan sumber segala perbaikan dan kebaikan. Hal ini dilakukan dengan terus senantiasa menggali isi kandungan Al Qur’an dan Hadits.&lt;br /&gt;2. memahami dengan benar konsep takdir menurut syari’at Islam, sehingga faham kalau segala kenikmatan dan rizqi serta yang lainnya tidak lepas dari ketentuan takdir Allah. Dengan memahami ini diharapkan tidak timbul dalam diri kita rasa iri dan dengki terhadap orang lain, karena tahu itu semua tidak lepas dari ketetapan takdir Allah.&lt;br /&gt;3. meyakini dengan benar dan kokoh bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan hikmah yang diinginkanNya. Sebab tidak semua kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain itu baik untuknya.&lt;br /&gt;4. membersihkan hati dengan berusaha mengamalkan seluruh syari’at islam.&lt;br /&gt;5. memandang dunia dengan segala perhiasannya sebagai sesuatu yang akan punah dengan cepat dan sesuatu yang tidak seberapa dibanding akherat. Demikian juga memandang tujuan akhir kehidupannya adalah akherat yang kekal abadi, sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. 10:24-25)&lt;br /&gt;6. selalu mengingat bahaya hasad bagi kehidupan dunia dan akheratnya.&lt;br /&gt;7. selalu mencanangkan dalam hatinya kewajiban mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya, sehingga tidak merasa panas melihat saudaranya lebih baik darinya dalam permasalahan dunia. Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya (Mutafaqun Alaihi).&lt;br /&gt;8. berusaha memenuhi hak-hak saudaranya sesama muslim dan mencari teman baik yang mengingatkan dan menasehatinya.&lt;br /&gt;9. selalu mengingat kematian dan pembalasan Allah atas kedzoliman dan kerusakan yang ditumbulkan hasad tersebut.&lt;br /&gt;10. mengingat keutamaan zuhud dan lapang dada terhadap nikmat yang Allah anugrahi kepada orang lain serta kewajiban bersyukur terhadap nikmat yang dianugrahkan kepadanya. Sebab semua ini akan menimbulkan sifat qana’ah dan kaya diri. Sifat qana’ah dan kaya diri ini yang akan membawanya kepada sifat iffah dan takwa. Rasululoh bersabda:&lt;br /&gt;mudah-mudahan dengan selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan sifat hasad ini kita semua dimudahkan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-1915399488752085998?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/1915399488752085998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=1915399488752085998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1915399488752085998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1915399488752085998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/hindarilah-sifat-hasad.html' title='Hindarilah sifat Hasad !!!'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-3796496064063334082</id><published>2008-03-02T15:36:00.001-08:00</published><updated>2008-03-02T15:37:07.145-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aqidah'/><title type='text'>Jauhilah Tujuh Perkara Yang Membinasakan</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://wahonot.wordpress.com/2008/02/19/jauhilah-tujuh-perkara-yang-membinasakan/" rel="bookmark" title="Jauhilah Tujuh Perkara Yang Membinasakan"&gt;Jauhilah Tujuh Perkara Yang Membinasakan&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="postinfo"&gt; Ditulis pada &lt;span class="postdate"&gt;Februari 19, 2008&lt;/span&gt; oleh wahonot&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;dicopy dari &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;http://wahonot.wordpress.com/2008/02/19/jauhilah-tujuh-perkara-yang-membinasakan/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; font-family: Tahoma;"&gt;Oleh : Majelis Ta’lim Ahlus Sunnah Wal Jamaah Bontang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: green; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (membawa kepada kehancuran). Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah tujuh perkara itu?, Beliau berkata: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot (desersi) dalam peperangan, melontarkan tuduhan zina kepada wanita yang terjaga kehormatannya, yang beriman yang tiada menahu dengannya”.(&lt;b&gt;Shahih&lt;/b&gt;, dikeluarkan &lt;b&gt;Al Bukhari &lt;/b&gt;(2766) dan &lt;b&gt;Muslim &lt;/b&gt;(89).&lt;span id="more-243"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Hadits ini disebutkan oleh Al Imam An Nawawi dalam kitab &lt;b&gt;Riyadhus Shalihin &lt;/b&gt;pada bab ke 362: yaitu Bab : &lt;b&gt;Kerasnya Pengharaman Sihir&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Penjelasan hadits: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;(Jauhilah), maksudnya hindarilah dan ini lebih mengena dari kata “tinggalkanlah” karena larangan untuk mendekati adalah lebih pas (tepat) sebagaimana firman Allah (artinya): &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“&lt;i&gt;dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, yang nampak maupun yang tersembunyi”&lt;/i&gt;. (&lt;b&gt;QS. Al An’am : 151)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;(Yang membinasakan). Disebut membinasakan karena bisa membinasakan pelakunya di dunia dengan dihukum dan di akherat dengan disiksa. (lihat &lt;b&gt;Fathul Majid Syarah Kitabut tauhid&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh&lt;/b&gt;) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Tujuh perkara yang membinasakan tersebut adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;1. &lt;b&gt;Syirik ( menyekutukan Allah )&lt;/b&gt; yaitu menyekutukan Allah dalam beribadah. Dosa besar yang pertama kali disebutkan oleh Rasulullah adalah kesyirikan, karena syirik adalah sikap durhaka kepada Allah yang paling besar. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu mas’ud : “Aku bertanya kepada Nabi : dosa apa yang paling besar disisi Allah? Beliau menjawab: Jika engkau menyekutukan Allah, padahal Dia adalah yang menciptakan kamu”. (&lt;b&gt;Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid&lt;/b&gt;). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;2.&lt;b&gt;Sihir&lt;/b&gt; adalah ungkapan tentang ikatan-ikatan buhul, jampi-jampi (mantra), hembusan-hembusan tukang sihir yang bisa menimbulkan suatu bahaya bagi orang yang disihirnya, diantaranya bisa menghilangkan nyawa, menyakiti, menghilangkan akal, ada yang menyebabkan muncul ikatan yang sangat kuat (seperti pelet, gendam dll) dan ada yang menyebabkan berpalingnya seseorang dari orang yang lain. (Lihat &lt;b&gt;syarah Riyadhus Shalihin &lt;/b&gt;oleh &lt;b&gt;Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin &lt;/b&gt;hal. 264 Cet. Darul Atsar).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Abu Muhammad Al Maqdisi berkata dalam kitab Al Kafi: “Sihir adalah jimat-jimat, jampi-jampi, dan buhul-buhul yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Maka sihir itu dapat menjadi sebab menyakiti, menghilangkan nyawa, dan memisahkan antara suami dengan istrinya.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Allah berfirman (artinya) : &lt;i&gt;“maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang (suami) dengan istrinya”&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;(QS. Al Baqarah: 102) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dan firman-Nya (artinya) : &lt;i&gt;“dan (aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul”.&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS Al Falaq :4) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maksudnya : wanita-wanita tukang sihir yang mengikat sihir-sihirnya dan meniup pada buhul-buhulnya. Seandainya sihir itu tidak memiliki hakekat tentu Allah tidak menyuruh kita untuk kita berlindung kepada-Nya dari pengaruh sihir itu. Bahkan Rasulullah pun pernah tersihir: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Diriwayatkan dari Aisyah , bahwa Nabi pernah terkena sihir, sehingga sihir itu membuatnya seakan-akan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Kemudian beliau berkata kepada Aisyah pada suatu hari:”Aku kedatangan dua malaikat, salah satunya duduk di dekat kepalaku dan satunya lagi duduk di dekat kakiku, lalu malaikat itu berkata: sakit apa orang ini? Malaikat yang satunya berkata: “dia tersihir”, malaikat itu berkata: siapa yang menyihirnya? Malaikat yang satunya menjawab :”Labid bin Al A’sham dengan sisir dan rambut dibungkus dengan pelepah kurma lalu dimasukkan ke sumur dzarwan”. &lt;b&gt;(HR. Al Bukhari) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Allah berfirman (artinya) : &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang dengan isterinya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;” &lt;b&gt;(QS. Al Baqarah: 102)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Diantara sihir tersebut ada yang sampai pada (tingkat) kekafiran apabila tukang sihir itu menyampaikan sihirnya melalui bantuan arwah-arwah syaithoniyah, dia bertaqarrub dan mengabdi kepadanya hingga ia mentaati syaithan maka hal ini adalah kekafiran yang tidak diragukan Kalau tidak sampai (pada) tingkat yang demikian maka itu merupakan perbuatan yang menyakiti dan diharamkan termasuk dosa-dosa besar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Ringkasnya; sihir itu termasuk dosa besar dan ada yang menghantarkan kepada kekafiran. Dan hukuman bagi tukang sihir adalah dihukum mati oleh pemerintah, baik sihirnya itu menyebabkan kekufuran atau tidak, berdasarkan hadits Nabi (yang artinya): &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal (kepalanya dengan pedang). (HSR. &lt;b&gt;Tirmidzi&lt;/b&gt;), Lihat &lt;b&gt;Syarah Riyadhus Shalihin &lt;/b&gt;3/266, &lt;b&gt;Fathul Majid Syarah KItabut Tauhid&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dalam Shahih Al Bukhari: “dari Bajalah bin Abdah, ia berkata: “Umar bin Al Kahttab telah menetapkan perintah yaitu bunuhlah tukang sihir laki-laki maupun perempuan”. (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;3. &lt;b&gt;Membunuh Jiwa yang Allah haramkan&lt;/b&gt;; yang diharamkan untuk dibunuh, ada empat macam: Seorang Muslim, Kafir Dzimmi (yang tunduk dibawah kekuasaan muslimin), Kafir Mu’aahad (yang terikat perjanjian) dan kafir Musta’man (yang dilindungi). Mereka tidak boleh dibunuh kecuali dengan sebab/ alasan yang dibenarkan agama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;4.Memakan riba. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Allah berfirman dalam surat &lt;span&gt;Al Baqarah ayat 275 – 279&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;yang artinya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;275&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;276. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;277. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;278. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;279. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;. &lt;b&gt;(Al Baqarah : 275 – 279) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “ Allah menjelaskan apabila seseorang tidak meninggalkan riba maka berarti dia telah menyatakan siap diperangi Allah dan rasul-Nya .(Na’udzubillahi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; Allah berfirman (artinya): &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“&lt;i&gt;Maka jika kamu tidak mengerjakan (untuk meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;(QS. Al Baqarah : 279) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Jika ia bertaubat maka diharamkan untuk dia mengambil / memakan hasil ribanya. (cukup baginya harta pokok yang dia miliki) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Ibnu Daqiqil Ied berkata: “menurut pengalaman yang ada, riba berdampak pada syu’ul khatimah. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari perkara riba” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;5.&lt;b&gt;Memakan harta anak yatim&lt;/b&gt; yaitu memanfaatkannya secara tidak sah. Allah berfirman: (artinya) &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang mema-kan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;. (&lt;b&gt;QS. An Nisa’ : 10) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;6. &lt;b&gt;Membelot/desersi dalam perang&lt;/b&gt;; yaitu mundur dari melawan orang-orang kafir diwaktu peperangan (sedang) berkecamuk, kecuali dengan tujuan yang dibenarkan, sebagaimana firman Allah : (artinya) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu mundur. Barangsiapa yang mundur di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesung-guhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya”&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;(QS. Al Anfall : 15 - 16) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;7. &lt;b&gt;Melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari dosa zina yang dia tidak tahu menahu dengannya&lt;/b&gt; ; yaitu menuduh wanita yang suci dari perbuatan zina dengan tuduhan yang tidak benar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Kita berlindung kepada Allah dari segala dosa besar maupun kecilnya. Wallaahul musta’an. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: black; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-3796496064063334082?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/3796496064063334082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=3796496064063334082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/3796496064063334082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/3796496064063334082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/jauhilah-tujuh-perkara-yang.html' title='Jauhilah Tujuh Perkara Yang Membinasakan'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-1637194579062159504</id><published>2008-03-02T15:32:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T15:35:58.723-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lihatlah siapa temanmu'/><title type='text'>lihatlah siapa temanmu</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://wahonot.wordpress.com/2008/02/07/lihatlah-siapa-temanmu/" rel="bookmark" title="Lihatlah, Siapa Temanmu…!"&gt;Lihatlah, Siapa Temanmu…!&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="postinfo"&gt; Ditulis pada &lt;span class="postdate"&gt;Februari 7, 2008&lt;/span&gt; oleh wahonot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;di copy dari&lt;br /&gt;http://wahonot.wordpress.com/2008/02/07/lihatlah-siapa-temanmu/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;Oleh: Bintu Humron&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita. &lt;span id="more-238"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang baik sebagai sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan binasa bersamanya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Wanita adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia butuh teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang dialami menjadikan dia berfikir, meminta pendapat, saran dan nasehat teman adalah suatu hal yang perlu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka teman sangat vital bagi kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman dalam hidup ini..?.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Namun wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar, teman yang baik (shalihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah laku. Seperti ungkapan&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;“Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya”.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek. Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;(Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)1&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dari petunjuk agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam. Pertama, teman yang shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka alangkah bagusnya nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata, ” Hati-hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia akan celaka, hati-hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati “.&lt;br /&gt;Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari. Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka perhatikanlah dengan detail teman-temanmu itu, karena teman ada bermacam-macam, ada teman yang bisa memberikan manfaat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;ada teman yang bisa memberikan kesenangan (kelezatan) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;dan ada yang bisa memberikan keutamaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Memang tidak akan pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat memilih teman, bahwa manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam :&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;” Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh-ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi “&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; (Riwayat Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Wanita muslimah yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita shalihah, bertakwa dan berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi. &lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: “Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalarn hal inipun ada yang karena ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik, itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat dipercaya. Kalau ahli bid’ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid’ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maka wanita muslimah yang benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriyah, status sosial clan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi patokan adalah substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya. “Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Oleh karena itu datang petunjuk Al Qur’an yang menyerukan hal itu :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orangÂ¬-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”(&lt;/em&gt;Al-Kahfi:28)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Footnote:&lt;br /&gt;1.Al Bid’ah, Dr. Ali bin M. Nashir&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Maraji :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Hilyah tolabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaed&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Bid’ah dhowabituha wa atsaruhas Sayyisil Ummah,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dr. Ali Muhammad Nashir AlFaqih&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Sahsiyah Mar’ah, Dr M.Ali Al Hasyimi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Dikutip dari Buletin Dakwah Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419 H&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-1637194579062159504?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/1637194579062159504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=1637194579062159504' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1637194579062159504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1637194579062159504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/lihatlah-siapa-temanmu.html' title='lihatlah siapa temanmu'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-518164253014533057</id><published>2008-03-01T23:13:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T23:15:01.135-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indahnya Malam Pertama'/><title type='text'>Indahnya Malam Pertama</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;n&lt;/span&gt;dahnya Malam Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Ditulis pada Februari 13, 2008 oleh wahonot&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;di copy dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;http://wahonot.wordpress.com/2008/02/13/indahnya-malam-pertama/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal sebagai bahan renungan kita…&lt;br /&gt;Tuk merenungkan indahnya malam pertama&lt;br /&gt;Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata&lt;br /&gt;Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Mauuut&lt;br /&gt;Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara&lt;br /&gt;Hari itu…mempelai sangat dimanjakan……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mandipun…harus dimandikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh badan kita terbuka….&lt;br /&gt;Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .&lt;br /&gt;Tak ada sedikitpun rasa malu…&lt;br /&gt;Seluruh badan digosok dan dibersihkan&lt;br /&gt;Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lubang ? lubang itupun ditutupi kapas putih…&lt;br /&gt;Itulah sosok kita….&lt;br /&gt;Itulah jasad kita waktu itu&lt;br /&gt;Setelah dimandikan…..&lt;br /&gt;Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih&lt;br /&gt;Kain itu … jarang orang memakainya..&lt;br /&gt;Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wewangian ditaburkan ke baju kita…&lt;br /&gt;Bagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan&lt;br /&gt;Tataplah…. tataplah. ..itulah wajah kita&lt;br /&gt;Keranda pelaminan… langsung disiapkan&lt;br /&gt;Pengantin bersanding sendirian…Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga&lt;br /&gt;Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita&lt;br /&gt;Diiringi langkah gontai seluruh keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta rasa haru para handai taulan&lt;br /&gt;Akad nikahnya bacaan talkin…&lt;br /&gt;Berwalikan liang lahat..&lt;br /&gt;Saksi - saksinya nisan-nisan yang tlah tiba duluan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan&lt;br /&gt;dan akhirnya…. .&lt;br /&gt;Tiba masa pengantin..&lt;br /&gt;Menunggu dan ditinggal sendirian…&lt;br /&gt;Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pertama bersama KEKASIH..&lt;br /&gt;Ditemani rayap - rayap dan cacing tanah&lt;br /&gt;Di kamar bertilamkan tanah..&lt;br /&gt;Dan ketika  langkah - langkah kaki tlah pergi….&lt;br /&gt;Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat…&lt;br /&gt;Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur…&lt;br /&gt;Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur…..&lt;br /&gt;Kita tak tahu…dan tak seorangpun yang tahu….&lt;br /&gt;Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan…..&lt;br /&gt;Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sungkan sekali meneteskan air mata…&lt;br /&gt;Seolah barang berharga yang sangat mahal…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Dia Kekasih itu..&lt;br /&gt;Menetapkanmu ke syurga..&lt;br /&gt;Atau melemparkan dirimu ke neraka..&lt;br /&gt;Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga…&lt;br /&gt;Tapi….tapi ….sudah pantaskah sikap kita selama ini…&lt;br /&gt;Untuk disebut sebagai ahli syurga ?????????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Sahabat…mohon maaf…jika malam itu aku tak menemanimu&lt;br /&gt;Bukan aku tak setia…&lt;br /&gt;Bukan aku berkhianat.. ..&lt;br /&gt;Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan&lt;br /&gt;Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdo’a…semoga kita bisa khusnul khotimah sehingga jadi ahli syurga.&lt;br /&gt;Amien….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-518164253014533057?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/518164253014533057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=518164253014533057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/518164253014533057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/518164253014533057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/indahnya-malam-pertama.html' title='Indahnya Malam Pertama'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-7575483648072875012</id><published>2008-03-01T23:10:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T23:12:42.144-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bila Wanita Tak Pintar Masak'/><title type='text'>Bila Wanita Tak Pintar Masak</title><content type='html'>Bila Wanita Tak Pintar Masak     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di copy dari&lt;br /&gt;http://majalah-nikah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=53&amp;Itemid=33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sudah mau nikah kok nggak bisa masak,” ledek seorang kakak lelaki kepada adik perempuannya. Si adik yang memang merasa tidak pintar memasak pun tersenyum seraya menjawab, “Ah, ntar juga bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ImageMemang, sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum kalau wanita selayaknya harus bisa masak. Pendapat ini bisa dimaklumi karena salah satu tugas utama wanita setelah menikah adalah memasakkan atau menyajikan makanan untuk keluarganya.&lt;br /&gt;Akan repot tentunya, jika sang ibu tidak pintar masak. Masak nasi saja sering gosong, masak sayur pun keasinan! Kalau terus-terusan begini, suami bisa hobi jajan di luar. Sedih kan, kalau sudah capek-capek masak, eh suami tidak selera makan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lama. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan agar suami bisa segera menikmati masakan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERUSLAH BERLATIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pepatah mengatakan, sesungguhnya bisa itu karena biasa. Begitu pula dengan memasak. Jika sejak kecil atau masih gadis seorang wanita rajin membantu ibunya di dapur, insyaallah ia akan lebih mengetahui urusan dapur alias masak-memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sampai menikah ternyata masih belum pintar masak, maka banyak-banyaklah berlatih untuk memasak menu harian. Menanak nasi pun perlu berlatih, agar tidak gosong atau kurang air (mlethis-Jawa). Demikian juga masak sayur, agar bisa pas di lidah, maka Anda harus belajar mengenal dan meracik bumbu untuk berbagai macam sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan malu untuk banyak bertanya pada orang yang lebih tahu urusan masak. Misalnya ibu, kakak, tetangga, tukang sayur, atau siapa saja. Bertanyalah tentang berbagai resep sederhana pada mereka. Bisa pula Anda mempraktikkan resep masakan yang ada dalam buku atau majalah. Mulailah dari resep yang bahan dan cara membuatnya paling sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUANG RASA MALAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya seorang wanita tidak pintar masak karena berawal dari rasa malas. “Mending jajan, beli ‘matengan’, tidak perlu repot-repot.” Memang beli ‘matengan’ adalah cara yang praktis. Tapi kalau begitu terus setiap hari, apakah  tidak boros? Kalau masih berdua mungkin belum begitu terasa. Bagaimana kalau anak sudah empat atau lima? Apa iya, masih mau jajan terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, untuk memasak kita perlu  repot sedikit. Mempersiapkan segala sesuatunya, dari perapian, peralatan sampai bahan, dan nanti kalau sudah selesai harus membersihkan atau membereskan semuanya. Melelahkan, memang. Tapi begitulah tugas ibu rumah tangga. Namun, kelelahan itu akan segera berganti kebanggaan dan kebahagiaan, tatkala seorang ibu melihat suami dan anak-anaknya menyantap masakannya dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang belum pintar masak, jangan malas untuk terus berlatih. Setelah terbiasa, nanti akan terbukti bahwa memasak itu bukanlah hal yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NIATKAN UNTUK IBADAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Rasulullah n bersabda bahwa jihad seorang wanita adalah di rumahnya? Mengurus rumah tangga, termasuk mengasuh anak dan memasak adalah ladang jihad bagi wanita. Semua tidak akan sia-sia bila dilakukan dengan ikhlas. Jika diniatkan untuk ibadah, insyaallah segala rasa lelah yang kita rasakan akan berbuah pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASAK BERSAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, seorang suami malah lebih pintar memasak daripada istrinya. Karena itu sekali-sekali perlu diadakan acara "masak bersama". Selain untuk menambah keharmonisan, kegiatan ini juga bisa dijadikan sarana untuk menularkan kepandaian memasak sang suami pada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suami tidak pintar masak pun, kegiatan masak bersama tetap asyik dilakukan, karena di situ keduanya akan sama-sama belajar. Walaupun memasak adalah tugas seorang istri, tapi tak ada salahnya bila suami juga belajar masak. Jadi, jika kelak istri sedang berhalangan, misalnya  sakit atau melahirkan, sang suami bisa menggantikan posisi sebagai koki rumah tangga untuk sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN ASAL ENAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang perlu diperhatikan oleh para ibu dalam hal masak-memasak. Seringkali untuk "mengakali" rasa yang kurang mantap, ibu kemudian membubuhkan penyedap rasa yang banyak dalam masakan. Padahal, sebagaimana kita ketahui, penyedap rasa kimia (MSG) adalah salah satu zat karsinogenik atau pemicu kanker. Karena itu, kalau bisa sebaiknya dihindari atau diminimalkan penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga makanan-makanan instan yang banyak mengandung penyedap rasa, misalnya mi instan, sebaiknya tidak terlalu sering dijadikan menu harian. Produk-produk instan, selain mengandung MSG, kadang juga mengandung zat pengawet dan pewarna, yang juga bersifat karsinogenik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa MSG pun, masakan bisa tetap enak, asal bumbunya proporsional. Masak sup atau soto misalnya, tanpa MSG bisa tetap enak dengan menggunakan kaldu asli yang sudah dimasak/dipanaskan cukup lama. Untuk "memantapkan" rasa, bisa dibubuhkan sedikit gula pasir sebelum masakan dihidangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan masak-memasak. Masih belum pintar masak? Tak ada kata terlambat untuk terus berlatih.&lt;br /&gt;(ummuna)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-7575483648072875012?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/7575483648072875012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=7575483648072875012' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/7575483648072875012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/7575483648072875012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/bila-wanita-tak-pintar-masak.html' title='Bila Wanita Tak Pintar Masak'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-3455345737557494619</id><published>2008-03-01T22:55:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T23:00:53.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MUKJIZAT EMBRIOLOGI DI DALAM AL-QUR’AN'/><title type='text'>MUKJIZAT EMBRIOLOGI DI DALAM AL-QUR’AN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://abusalma.wordpress.com/2007/01/22/mukjizat-embriologi-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="http://abusalma.wordpress.com/2007/01/22/mukjizat-embriologi-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MUKJIZAT EMBRIOLOGI DI DALAM AL-QUR’AN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh abu salma di/pada Januari 22, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUKJIZAT EMBRIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI DALAM AL-QUR’AN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dicopy dari&lt;br /&gt;http://abusalma.wordpress.com/2007/01/22/mukjizat-embriologi-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allohu Akbar… Maha Besar Alloh, yang telah menciptakan manusia dengan bentuknya yang sempurna, kemudian Alloh anugerahkan mereka dengan kecerdasan dan otak supaya mereka ini mau berpikir akan ciptaan Alloh. Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَفِيْ الأَرْضِ ءَايَاتٌ لِلْمُوْقِنِيْنَ وَفِيْ أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz-Dzaariyat : 20-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat di atas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alloh Ta’ala berfirman menyeru hamba-hamba-Nya untuk bertafakkur (berfikir) dan mengambil i’tibar (pelajaran) : “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin” yang mencakup bumi itu sendiri dan apa-apa yang ada padanya seperti pegunungan, lautan, sungai, pepohonan dan tetumbuhan, yang menunjukkan orang yang memikirkannya dan merenungkan maknanya, akan keagungan pencipta-Nya, kekuasannya-Nya yang maha luas, kebaikan-Nya yang umum mencakup semuanya dan ilmu-Nya yang mencakup zhahir dan bathin. Demikian pula, bahwa di dalam diri seorang hamba itu ada pelajaran, hikmah dan rahmat yang menunjukkan bahwa Alloh itu maha tunggal al-Ahad…” [Taysir Karimir Rahman, tafsir surat adz-Dzariyat, juz 29, hal. 809).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia zaman dahulu tidak mengetahui bahwa mereka mengalami perkembangan di dalam perut (uterus ibnu mereka) hingga akhirnya sains modern menguaknya. Ilustrasi pertama yang diketahui tentang sebuah janin digambar oleh Leonardo Da Vinci pada abad ke-15. Pada abad ke-2 Masehi, Galen menggambarkan Plasenta dan membran fetal di bukunya yang berjudul ‘On the Formation of the Fetus’. Mungkin, karena inilah para dokter pada abad ke-7 M kemungkinan besar telah mengetahui bahwa embrio manusia berkembang di dalam uterus, namun tetap saja tidak mungkin mereka mengetahui bahwa embrio tersebut berkembang secara bertahap, walaupun Aristoteles telah menggambarkan tahap-tahap perkembangan embrio ayam pada abad ke-4 sebelum masehi. Pemahaman bahwa embrio manusia berkembang secara bertahap tidak dibahas dan diilustrasikan sampai abad ke-15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah Mikroskop ditemukan pada abad ke-17 oleh Leueewenhoek, deskripsi tentang embrio ayam dibuat, namun pengetahuan akan perkembangan embriologi manusia tidaklah diketahui secara mendetail melainkan setelah abad ke-20 setelah Streeter (1941) mengembangkan sistem pertama kali tentang tahap perkembangan embrio yang kemudian digantikan oleh sistem yang lebih akurat yang dikemukakan oleh O’Rahilly (1972).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menjelaskan perkembangan embrio ini secara mendetail 14 abad yang lalu, dimana pada zaman itu mikroskop, USG dan semisalnya belum ditemukan. Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَخْلُقُكُمْ فِيْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْضِ خَلْقٍ فِيْ ظُلُمَاتٍ ثَلاَثٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (QS az-Zumar : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Sa’di rahimahullahu menjelaskan penafsiran ayat ini : “yaitu Alloh menciptakan kalian thur ba’da thur (tahap demi tahap bentuknya), dan kalian dalam keadaan dimana tidak ada tangan satu makhlukpun memegang kalian dan mata melihat kalian, dan Dia-lah Alloh yang memelihara kalian di dalam tempat yang sempit tersebut (perut ibu, uterus), “dalam tiga kegelapan” yaitu kegelapan perut [zhulmatul Bathni], kegelapan rahim [zhulmatur rahmi] kemudian kegelapan tembuni/ari-ari [zhulmatu masyimah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains modern menjelaskan bahwa tahapan perkembangan embrio di dalam uterus memang terjadi secara bertahap, bentuk demi bentuk. Dan sains modern menjelaskan bahwa janin manusia berada pada tiga lapisan, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dinding anterior abdomen&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dinding uterus&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Membran Amniochorionic (lihat Gambar 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar1.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gambar 1. Gambar irisan sagital dari abdomen dan pelvis (tulang kelamin) wanita menunjukkan janin di dalam uterus. Tiga kegelapan tersebut adalah : (1) Dinding anterior abdomen, (2) Dinding uterus, dan (3) Membran Amniochorionic.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran di atas tidak menyelisihi penjelasan sains modern, dimana “tiga kegelapan” tersebut yang dijelaskan oleh Syaikh as-Sa’di adalah sama dengan yang disebutkan di dalam sains modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhulmatul Bathni (kegelapan perut) bisa diinterpretasikan sama dengan dinding anterior abdomen. Karena bathnun sama dengan abdomen. Zhulmatur rahmi (kegelapan rahim) sama dengan dinding uterus, karena rahim yang dimaksud adalah uterus. Zhulmatul Masyimah (kegelapan tembuni) identik dengan membran amnichorionic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ جَعَلْنَا نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS Al-Mu’minun : 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh as-Sa’di rahimahullahu berkata : “Nuthfah adalah sesuatu yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan kemudian menetap di “tempat yang kokoh” yaitu rahim, yang memeliharanya dari rusak, cedera dan selainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang keluar dari sulbi laki-laki adalah spermatozoa dan yang keluar dari wanita adalah ovum. Lantas keduanya bercampur sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّا خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَطٍ أَمْشَاجٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami menciptakan manusia dari tetesan air yang bercampur.” (QS Al-Insan : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campuran keduanya ini membentuk zigot yang membelah diri membentuk blastocyst yang tertanam secara kuat di uterus (tempat yang kokoh). (Gambar 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar2.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2 : Blastocyst yang tertanam dalam uterus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ خَلَقْنَا النُطْفَةَ عَلَقَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian nuthfah itu Kami jadikan ‘alaqoh” (QS Al-Mu’minun : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘Alaqoh dari sisi bahasa Arab bermakna 3, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bermakna lintah.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bermakna sesuatu yang tergantung.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bermakna segumpal darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan maha suci Alloh, ternyata tiga makna yang terkandung di dalam kata ’Alaqoh ini tidak ada yang menyelisihi fakta saintifik modern sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Alaqoh bermakna sebagai lintah, Ini adalah deskripsi yang tepat bagi embrio manusia sejak berusia 1-24 hari ketika menempel di endometrium pada uterus, serupa sebagaimana ‘lintah’ menempel di kulit. Serupa pula dengan ‘lintah’ yang memperoleh darah dari inangnya, embrio manusia juga memperoleh darah dari “endometrium deciduas” saat hamil. Hal ini sangat luar biasa bagaimana embrio yang berumur 23-24 hari bisa menyerupai seekor lintah (Gambar 3). Selama mikroskop dan lensa belum ditemukan pada abad ke-7, para dokter tidak akan tahu bahwa embrio manusia memiliki penampakan seperti lintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membandingkan lintah air tawar dengan embrio pada tahap ‘alaqoh, Profesor Moore, seorang profesor Emeritus ahi anatomi dan embriologi dari Universitas Toronto Kanada, menemukan kesamaan yang banyak pada keduanya. Beliau berkesimpulan bahwa embrio selama tahap ‘alaqoh memiliki penampakan yang sangat mirip dengan lintah. Profesor Moore lantas menempatkan sebuah gambar embrio dan lintah bersebelahan (Gambar 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar3.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 3 : Atas, sebuah gambar dari lintah. Bawah, sebuah gambar dari embrio berusia 24 hari. Perhatikan penampakan seperti lintah pada embrio manusia dalam tahap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti kedua, ‘alaqoh adalah ‘sesuatu yang tergantung’, dan hal ini adalah apa yang dapat kita lihat pada penempelan embrio di uterus/rahim selama tahap ‘alaqoh. Dan ini adalah suatu fakta ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti ketiga adalah ‘segumpal darah’. Hal ini signifikan untuk mengamati sebagaimana pernyataan Profesor Moore, bahwa embrio selama tahap ‘alaqoh mengalami peristiwa internal yang sudah dikenal, seperti pembentukan darah pada pembuluh tertutup, sampai siklus metabolisme selesai di plasenta. Selama tahap ‘alaqoh, darah ditangkap di dalam pembuluh tertutup dan inilah alasan mengapa embrio memiliki penampakan seperti gumpalan darah. Ketiga deskripsi tersebut secara mengagumkan disodorkan oleh satu kata ‘alaqoh dalam Qur’an. Maha suci Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ خَلَقْنَا العَلَقَةً مُضْغَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian ‘alaqoh itu kami jadikan mudhghoh” (QS Al-Mu’minun : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mudghah bisa bermakna “segumpal daging” dan bisa juga bermakna “sesuatu yang dikunyah”. Akhir minggu ke empat, embrio manusia tampak seperti gumpalan daging atau sesuatu yang dikunyah (gambar 4). Penampakan seperti bekas kunyahan menunjukkan somit yang menyerupai tanda gigi. Somit merepresentasikan permulaan primordia dari vertebrae (bakal tulang belakang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar4.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 4. Kiri, model plastik embrio manusia yang memiliki penampakan gumpalan daging. Kanan, sebuah gambar embrio berusia 28 hari yang menunjukkan beberapa somit seperti manik-manik yang menyerupai tanda gigi pada pada model yang ditunjukkan di kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَخَلَقْنَا المُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا العِظَامَ لحَمْاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian kami jadikan mudghoh itu ‘idhoman (tulang belulang), lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan lahma (daging/otot)” (QS Al-Mu’minun : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas mengindikasikan bahwa setelah tahap mudhghoh, tulang belulang dan otot terbentuk. Hal ini sesuai dengan perkembangan embriologi. Pertama tulang terbentuk sebagai model kartilago (tulang rawan) dan otot (daging) berkembang menyelimutinya dari mesodermal somatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ أَنْشَأْنَاُه خَلْقًا ءَاخَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain” (QS Al-Mu’minun : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas mengimplikasikan bahwa tulang dan otot menghasilkan bentukan/formasi makhluk dengan bentuk yang lain. Hal ini bisa mengacu pada manusia yang masih berupa embrio yang terbentuk di akhir minggu ke delapan. Pada tahap ini, embrio memiliki karekteristik khusus dan memiliki primordia (bakal) seluruh organ dan bagian-bagiannya baik internal maupun eksternal. Setelah minggu ke delapan, embrio ini disebut fetus. Hal ini menjadikannya sebagai makhluk yang baru yang berbentuk lain. Maha Suci Alloh, Pencipta yang paling baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan Ia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan pemahaman (hati)” (QS an-Nahl : 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas mengindikasikan bahwa indera khusus seperti pendengaran, pengelihatan dan peraba berkembang pada tahap ini, adalah benar. Primordia (bakal) telinga internal nampak sebelum permulaan perkembangan mata, dan otak (tempatnya pemahaman) berdiferensiasi terakhir kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِمُخَلَّقَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna” (QS Al-Hajj : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan ayat di atas mengindikasikan bahwa embrio tersusun atas jaringan yang berdiferensiasi (sempurna kejadiannya) dan jaringan yang tak berdiferensiasi (tidak sempurna). Sebagai contoh, ketika tulang kartilago (rawan) berdiferensiasi, jaringan ikat embrio atau mesenkim yang menyelubunginya tak berdifirensiasi. Ia akan berdiferensiasi kemudian menjadi otot dan ligamen yang menempel di tulang. Dan ini adalah suatu fakta ilmiah yang tak terbantahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِيْ الأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agar kami jelaskan kepadamu dan kami tetapkan di dalam rahim (uterus), apa yang kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan” (QS Al-Hajj : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan ayat di atas menyatakan bahwa Alloh telah menetapkan dan menentukan embrio di dalam uterus sampai masa penuhnya (kehamilan 9 bulan). Hal ini juga diketahui secara jelas bahwa banyak embrio gagal berkembang selama bulan pertama perkembangannya, dan hanya sekitar 30% zigot yang terbentuk, berkembang menjadi fetus yang selamat hingga kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku “Developing Human”, DR. Moore menyatakan bahwa klasifikasi modern tentang tahap perkembangan embrionik, yang telah diadopsi hampir di seluruh dunia, adalah pengkasifikasian yang terlalu rumit dan tidak komprehensif. Klasifikasi modern di atas tidak memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai tahapan perkembangan embrionik secara mudah dan jelas, karena tahap-tahap tersebut berdasarkan bentuk numerik, yaitu, tahap 1, tahap 2, tahap 3, dst. Pembelahan yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an tidaklah bergantung pada sistem numerik. Lebih jauh, klasifikasi perkembangan embrio yang terdapat di al-Qur’an berdasarkan pada pengidentifikasian bentuk (morfologi) dan ukuran yang lebih akurat, mudah difahami dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an mengeidentifikasikan tahapan perkembangan prenatal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Nuthfah, yang berarti “setetes” atau “sejumlah kecil air”&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      ‘Alaqoh yang berarti “struktur seperti lintah”, “segumpal daging” atau “sesuatu yang tergantung”.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mudghah yang berarti “struktur bekas kunyahan” atau “segumpal daging”&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      ‘Idhaam yang berarti “tulang” atau “rangka”&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kisaa al-‘Idham bil laham, yang bermakna membungkus tulang dengan daging atau otot.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      An-Nasy’a yang berarti “formasi/pembentukan fetus yang sudah jelas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Moore telah menjelaskan bahwa pembelahan versi Qur’an ini benar-benar berdasarkan pada fase yang berbeda pada perkembangan prenatal. Beliau telah menggarisbawahi bahwa deskripsi saintifis yang elegan ini lebih komprehensif dan praktis. Dan seharusnya para saintis modern menjadikan dasar klasifikasi perkembangan embriologi di dalam Al-Qur’an ini sebagai dasar klasifikasi yang dipegang, karena lebih mudah difahami, akurat dan saintifis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari paparan di atas, apakah mungkin Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam ini adalah kitab suci yang diada-adakan oleh beliau sebagaimana tuduhan kaum kuffar dan atheis? Bagi orang-orang yang mempergunakan akal sehatnya tentu akan mengatakan, “Maha Suci Alloh, sesungguhnya ini semua berasal dari sisi-Mu.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-3455345737557494619?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/3455345737557494619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=3455345737557494619' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/3455345737557494619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/3455345737557494619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/mukjizat-embriologi-di-dalam-al-quran.html' title='MUKJIZAT EMBRIOLOGI DI DALAM AL-QUR’AN'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-6172091275253730606</id><published>2008-03-01T20:05:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T23:09:08.129-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEMETIK SECUIL FAIDAH DARI BUKU “Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd”'/><title type='text'>MEMETIK SECUIL FAIDAH DARI BUKU “Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd”</title><content type='html'>&lt;a href="http://abusalma.wordpress.com/2008/02/29/resensi-buku-ithaful-%e2%80%98ibad/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MEMETIK SECUIL FAIDAH DARI BUKU&lt;br /&gt;“Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dicopy dari&lt;br /&gt;http://abusalma.wordpress.com/2008/02/29/resensi-buku-ithaful-%e2%80%98ibad/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;covewr.jpgHari Kamis kemarin (28/02/2007), saya sempat singgah di toko buku Islam “Progressif” Jl. KHM Mansyur untuk melihat-lihat informasi buku baru. Lalu pandangan mata saya tertarik dengan sebuah judul buku yang cukup tebal dan hard-cover, berjudul “Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi” yang ditulis oleh al-Ustadz ‘Abduh Zulfidar Akaha, yang diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar. Saya kemudian mengambil buku tersebut dan membuka-buka halamannya. Wah, ternyata buku ini adalah jawaban dan bantahan terhadap buku Ustadz Luqman Ba’abduh, “Menebar Dusta Membela Teroris Khowarij.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, apa hubungannya Resensi buku “Ithâful ‘Ibâd” ini dengan buku Ustadz ‘Abduh Zulfidar di atas? Sebenarnya, saya tergelitik dengan satu bab khusus di dalam buku al-Ustadz ‘Abduh ZA –wafaqohullâhu wa iyyanâ- berkenaan tentang Untuk Siapakah Buku Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah ditujukan. Di dalam bab ini, al-Ustadz ‘Abduh meragukan keabsahan pernyataan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad sebagai penulis buku (kutayib) Rifqon, yang menjelaskan bahwa buku beliau tersebut (yaitu Rifqon Ahlas Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah) tidak ditujukan untuk Ikhwanul Muslimin, orang yang terfitnah dengan Sayyid Quthb, harokiyyin, orang yang sibuk dengan Fiqhul Wâqi’, mencela penguasa kaum muslimin dan orang yang merendahkan para ulama. Sebagaimana termaktub dalam buku “Ithâful ‘Ibâd” hal. 61.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah ucapan Syaikh dan scan image dari kitab aslinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rifqon1.jpg rifqon2.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    و الكتاب الذي كتبتة أخيراَ….لا علاقة للذين ذكرتهم في مدارك النظر بهذا الذي هو :رفقاَ أهل السنة بأهل السنة لا يعني الإخوان المسلمين , ولا يعني المفتونين بسيد قطب و غيرهم من الحركيين, و لا يعني أيظاً المفتونين بفقه الواقع و النيل من الحكام و كذلك التزهيد في العلماء لا يعني هؤلاء لا من قريب و لا من بعيد و إنما يعني أهل السنة فقط حيث يحصل بينهم الإختلاف فينشغل بعضهم ببعض تجريحاَ و هجراَ و ذماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Buku yang aku tulis terakhir ini yaitu Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah ada korelasinya dengan yang telah aku sebutkan di dalam Madârikun Nazhar. Risalahku Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah dimaksudkan untuk Ikhwanul Muslimin tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan Sayyid Quthb dan selainnya dari para harokiyyin. Tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan fiqhul waqi’, para pencela penguasa dan orang-orang yang merendahkan para ulama, tidak dimaksudkan untuk mereka semua baik yang dekat maupun jauh. Sesungguhnya, risalahku ini aku peruntukkan untuk Ahlus Sunnah saja!!! Mereka yang berada di atas jalan Ahlus Sunnah yang tengah terjadi di tengah mereka ini sekarang perselisihan dan sibuknya mereka antara satu dengan lainnya dengan tajrih, hajr (mengisolir) dan mencela. [“Ithâful ‘Ibâd” hal. 60-61.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz ‘Abduh meragukan penukilan di atas, beliau mungkin kesulitan di dalam melacak sumber penukilan tersebut, disebabkan karena mungkin buku ini belum begitu menyebar di toko buku berbahasa Arab di Indonesia. Beliau juga kesulitan mencari informasi buku ini dari situs di internet, apalagi setahu saya, situs yang mencuplik buku ini, yaitu misrsalafi, sudah tidak online lagi, dimana dari situs inilah, ustadz Ba’abduh (atau muridnya, al-Akh Alfian) menukilnya. Ustadz ‘Abduh juga mempertanyakan realitas buku “Ithâful ‘Ibâd” ini berikut penulisnya, sehingga ketika beliau belum mendapatkan otentisitas penukilan ucapan Syaikh ‘Abdul Muhsin di atas, beliau terkesan meragukan penukilan tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, di dalam artikel (baca : resensi) singkat ini, saya ingin berbagi informasi, dan tidak bermaksud membantah ustadz ‘Abduh maupun Ba’abduh, biarlah mereka berdua yang menyelesaikan polemik ini di kancah perdebatan ilmiah, walau saya kurang mengapresiasi ustadz Luqman Ba’abduh yang enggan diajak berdiskusi secara langsung oleh ustadz ‘Abduh. Seharusnya seorang salafy yang ilmiah, dia siap untuk diajak berdiskusi secara ilmiah dan terbuka secara langsung, sebagaimana guru kami, al-Ustadz ‘Abdul Hakim ‘Abdat dan Ustadz Abu Qotadah hafizhahumâllâhu, yang siap dan bersedia diajak diskusi secara langsung, ketika beliau berdua diundanng oleh PERSIS Jabar. [Lihat al-Masa’il jilid VIII, pendahuluan yang cukup panjang dari al-Ustadz ‘Abdul Hakim, yang mengklarifikasi tuduhan dari majalah PERSIS Jawa Barat pasca diskusi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Ubaikân hafizhahullâhu yang berani dan menantang balik tokoh takfiriyun untuk berdiskusi dan berdebat, sebagaimana dalam asy-Syarqul Awsâth (25/5/2005), dalam wawancara yang cukup panjang dengan Syaikh al-‘Ubaikân. Diantara yang dikatakan oleh Syaikh al-‘Ubaikân adalah : “Saya katakan, mereka yang membenarkan al-Qâ’ida dan ideologi takfirnya, mereka ini adalah orang yang dangkal dan pendek pemahamannya. Saya telah menantang untuk berdialog dengan orang-orang seperti mereka ini dengan media apapun. Saya telah duduk dan berdebat dengan para pendukung mereka baik di rumahku maupun di masjid. Saya, al-‘Ubaikân, siap menerima ajakan debat bahkan dengan Bin Lâdin sekalipun.” (Harian asy-Syarqul Ausâth, 25 Mei 2005. Lihat : http://www.asharq-e.com/news.asp?section=3&amp;id=85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Alî Hasan pun beberapa kali duduk berdialog dengan lawan-lawan beliau, yang sebagiannya bahkan terekam di TV. Beliau pernah berdialog dengan Syaikh Muhammad Abū Ruhayyim, Hasan as-Saqqof, Demikian pula dengan Syaikh Salîm al-Hilâlî, Syaikh ‘Abdul ‘Azîz ar-Rayyis, Syaikh Muhammad Sa’id Ruslân, dll. Mereka semua tidak segan untuk berdiskusi dalam rangka menunjukkan al-Haq… Untuk itulah, saya mengharap supaya al-Ustadz Luqman Ba’abduh bersedia untuk diajak diskusi dan menjelaskan al-Haq, agar tidak semakin menyebar fitnah bahwa al-Ustadz adalah orang yang ‘pengecut’ –na’ūdzubillâhi- semoga tidak demikian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi Singkat Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cover2.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Abdillâh al-‘Umaisân&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi &amp; Taqrîzh : Fadhîlatusy Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd al-Badr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Dârul Imâm Ahmad – Mesir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 1426 H – 2005 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sebenarnya saya peroleh pada pertengahan tahun 2006, hadiah dari seorang teman yang pulang haji, yaitu saudara saya yang mulia, teman seperjuangan di dalam dakwah, al-Akh Abu Furqon Amali –Jazzahullâhu khoyrol jazâ`-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berjumlah 192 halaman yang terdiri dari sejumlah bab yang berkaitan dengan fawaid (faidah-faidah) hadits yang disampaikan oleh al-‘Allâmah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd al-Badr di Masjid Nabawi pada kajian Syarh Sunan Abî Dâwud. Yang menyusun buku ini adalah seorang thâlibul ‘ilmi yang senantiasa menghadiri kajian Syaikh di Masjid Nabawi, yaitu Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Abdillâh al-‘Umaisân. Disebutkan dalam pendahuluan buku ini, yang diberi kata pengantar oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin sendiri, bahwa Syaikh al-‘Umaisân tidak pernah meninggalkan kajian yang disampaikan Syaikh al-‘Abbâd selama 5 tahun kecuali hanya 5 kali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah taqrîzh (rekomendasi/kata pengantar) Syaikh al-‘Abbâd di dalam buku Ithâful ‘Ibâd :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sroh.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Segala puji hanyalah milik Allôh semata. Semoga Allôh senantiasa melimpahkah sholawat dan salam-Nya kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’d :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya telah menelaah (buku yang berisi) faidah-faidah yang berkaitan dengan hadits beserta seluk beluk ilmu-nya dan para perawinya (Rijâlul hadîts) yang dikumpulkan oleh al-Akh asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Abdillâh al-‘Umaisân dari pelajaranku di Masjid Nabawi tentang Syarh Sunan Abî Dâwud. Beliau adalah seorang mulâzim (yang senantiasa menghadiri pelajaran) dan beliau menyebutkan bahwa beliau tidak pernah ketinggalan pelajaran melainkan hanya lima kali saja dari rentang waktu yang panjang selama hampir 5 tahun. Sungguh baik apa yang telah beliau lakukan, semoga Allôh mengganjarnya dan memberkahi hasil upaya beliau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya tidak melarang penyebaran buku ini dalam rangka untuk memperluas manfaat di dalamnya. Saya memohon kepada Allôh agar memberikan taufik-Nya kepadaku dan beliau serta seluruh penuntut ilmu agar memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, sesungguhnya, Allôh adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Semoga Allôh senantiasa melimpahkah sholawat dan salam-Nya kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang berusaha mengikuti mereka dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ditulis oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd al-Badr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    14-10-1425 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rekomedasi Syaikh di atas, jelas bahwa buku ini ditelaah dan direkomendasikan oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd sendiri. Sehingga, apa yang dipaparkan di dalamnya, adalah atas sepengetahuan dan seizin Syaikh, serta tidak ada celah untuk meragukan dan mempertanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berbagi informasi pula, buku ini berisi dengan faidah-faidah haditsiyah yang sarat akan manfaat dan ilmiyah. Seakan-akan, Syaikh al-‘Umaisân mengekstrakkan bagi pembaca buku ini, faidah-faidah hadits yang disampaikan al-‘Allâmah al-‘Abbâd selama 5 tahun, terangkum dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas tentang Bab-Bab dalam Buku ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diawali dengan bab “Fadhlu Ahlil Hadîts wa ‘Uluwwi Makânnatihim” (Keutamaan Ahli Hadits dan Kedudukan Mereka yang Mulia), kemudian dilanjutkan dengan Fadhlu Ma’rifati ‘Ilmir Rijâl (Ketamaan Mengetahui Ilmu Perawi). Dalam bab ini, dinukil ucapan emas al-Imam Ibnu al-Madini yang mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Tafaqquh (mempelajari) makna-makna hadits adalah separuh daripada ilmu, dan mempelajari para perawi (rijâl) hadits adalah separuh ilmu.” [hal. 14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab berikutnya adalah al-Jarh wat Ta’dîl bihaqqin Laysa minal Ghîbah al-Muharromah fî Syai`in (Jarh (mencela/mencacat perawi) dan ta’dîl (memuji) secara benar tidaklah termasuk sedikitpun dari menggunjing yang diharamkan). Di sini, dipaparkan kriteria ghîbah yang diperbolehkan, dimana jarh wa ta’dîl merupakan ghîbah yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan apabila untuk membela kemurnian agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab selanjutnya adalah Dhowâbith fî Ma’rifatir Rijâl (Kriteria di dalam mengenal perawi). Dalam hal ini dicontohkan dan dijelaskan bagaimana cara membedakan Hammâdain (dua Hammâd, yaitu Hammâd bin Salamah dan Hammâd bin Zaid) dan Sufyanain (dua Sufyân, yaitu Sufyân bin ‘Uyainah dan Sufyân ats-Tsaurî).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya, silakan baca daftar isi buku ini dengan mengklik di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Faidah Penting Dari Buku Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa faidah penting dari buku ini, yang mungkin dapat bermanfaat, terutama bagi al-Ustadz ‘Abduh ZA dan al-Ustadz Luqmân Ba’abduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Buku Madarikun Nazhar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh hafizhahullahu ditanya : “Apakah benar dikatakan bahwa anda tidak membaca (buku Madarikun Nazhar) melainkan hanya muqoddimahnya saja dan anda tidak setuju dengan penulisnya (Syaikh ‘Abdul Malik) di dalam kritikannya terhadap beberapa orang yang ia kritik, apa tanggapan anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    قرأت الكتاب من أوله إلى آخره مرتين وأنا لا يمكن أن أكتب كتابة عن كتاب إلا وقد اطلعت عليه من أوله إلى آخره.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Syaikh menjawab : “Aku telah membaca buku ini dari awal sampai akhir sebanyak dua kali. Dan aku tidak mungkin menulis sebuah pengantar terhadap sebuah buku melainkan aku menelaahnya dari awal sampai akhir.” [hal. 61]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang dipuji dan dianjurkan oleh Syaikh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ‘Ilmur Rijâl dan Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Riyâdhul Mustathôbah karya al-‘Âmirî al-Yamanî. Kata Syaikh, buku yang sangat bagus sekali, dan diantara bagusnya buku ini adalah, penulis menyebutkan sahabat beserta anak-anaknya disertai keterangan akan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tahdzîbul Kamâl karya al-Mizzî, yang diringkas oleh Ibnu Hajar dalam Tahdzîbut Tahdzîb lalu diringkas lagi dengan judul Taqrîbut Tahdzîb dan adz-Dzahabî dalam Tahdzîbit Tahdzîbil Kamal.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Mîzanul I’tidâl karya adz-Dzahabî. Syaikh menjelaskan keistimewaanna secara panjang lebar.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku “Ujalatul Imlaa` karya an-Naaji, buku yang sangat bermanfaat sekali. Nama aslinya adalah al-Hafizh Burhanudin an-Naaji.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku-buku karya Ibnu Rojab al-Hanbali yarhamuhullahu dalam bidang hadits.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Musnad ad-Darimi dan Sunan ad-Darimi, keduanya ini pada hakikatnya adalah satu buku yang sama.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Tahdzibu as-Sunan karya Ibnul Qoyyim rahimahullahu.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku al-Lu`lu` wal Marjaan fiima ittafaqo ‘alaihi asy-Syaikhoon karya Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, buku yang sangat bagus. Sanad-sanadnya dihilangkan agar ringkas dan jumlah haditsnya adalah 1906.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. ‘Aqidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Tathhîru al-I’tiqôd karya ash-Shon’âni dan Syarh ash-Shudūr fi Tahrîmi Raf’il Qubūri karya asy-Syaukâni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdul Muhsin berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Keduanya adalah dua buku yang mulia. Aku banyak mengambil faidah dari keduanya terutama di dalam bantahanku terhadap Hasan al-Maliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku al-Ushulu ats-Tsalatsah karya Syaikhul Islam Ibnu ‘Abdil Wahhab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bantahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku at-Tankîl fir Raddi ‘alal Kautsârî karya al-Mu’âlimi al-Yamani, kitab yang baik dan di dalamnya sarat akan faidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu yang berjudul Dahru Iftiro`ât Ahli az-Zaigh wal Irtiyâb ‘an Da’wati al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb, buku yang lurus, sangat bermanfaat sekali.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Syaikh ‘Abdul ‘Azîz ar-Rayyis di dalam membantah Hasan al-Maliki, buku yang ringkas namun bermanfaat.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Madârikun Nazhar fis Siyâsah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fikih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kitab fikih yang paling luas pembahasannya adalah al-Mughnî karya Ibnu Qudamah, al-Majmū’ karya an-Nawawi dan al-Istidkzâr karya Ibnu ‘Abdil Barr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Ahkâmul Janâ`iz wa Bida’uha karya Syaikh al-Albânî rahimahullâhu, Syaikh ‘Abdul Muhsin berkata tentangnya, “Aku tidak tahu ada buku yang lebih memadai daripada Ahkâmul Janâ`iz dan buku ini adalah yang paling utama yang pernah ditulis.”&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku I’lâmul Muwaqqi’în, buku agung yang Syaikh menasehatkan para pelajar untuk mempelajarinya dan mengambil faidah darinya. Buku ini mencakup hukum-hukukm syar’i dan penjelasan akan hikmah-hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tafsir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Tafsîr Ibnu Katsir, merupakan buku tafsir yang paling bermanfaat, Syaikh menasehatkan para pelajar supaya mempelajarinya.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Buku Tafsir as-Sa’di, buku yang ringan cocok bagi para pelajar pemula dan ulama sekalipun. [hal. 58-62]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Buku Sayyid Quthb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ditanya tentang buku-buku Sayyid Quthb, apakah beliau menasehatkannya untuk dibaca? Syaikh menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Aku menasehatkan untuk membaca buku-buku yang isinya benar-benar selamat, adapun contoh dari buku-buku ini –yaitu buku-buku karya Sayid Quthb-, keselamatan di dalamnya tidaklah jelas. Aku katakan, umur itu pendek maka hendaknya disibukkan dengan hal-hal yang lebih jelas keselamatannya, seperti buku-buku salaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian syaikh ditanya lagi tentang bagaimana dengan menukil dari buku ini? Syaikh menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mencukupkan dari selainnya, sepatutnya menukil hanya dari buku-buku yang selamat.” [hal. 64-65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Surūr dan bukunya Manhajul Anbiyâ’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ditanya tentang Muhammad Surur bin Zainal ‘Abidin di bukunya Manhajul Anbiyâ’ fîd Da’wati ilallôhi, apakah beliau nasehatkan untuk membacanya? Syaikh menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Aku tidak menasehatkan untuk membaca sedikitpun dari tulisan orang ini. Aku telah menelaah ucapannya yang jelek di dalam majalahnya “as-Sunnah” yang ia jadikan sebagai mimbar untuk memerangi ahlus sunnah dan mencela Ulama besar kerajaan dengan celaan yang keji.” [hal. 65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang buku Ihyâ’ Ulūmuddîn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ditanya tentang buku Ihya` ‘Ulumuddin karya Abu Hamid al-Ghozali, apakah beliau nasehatkan untuk ditelaah dan dibaca? Syaikh menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Aku tidak menasehatkan untuk membacanya dikarenakan di dalamnya ada perkara yang baik dan ada yang buruk. Di dalamnya ada perkataan yang bagus dan ada perkataan yang jelek. Seorang manusia hendaknya membaca buku yang isinya benar-benar selamat (dari kesalahan dan kebatilan). Terkadang seseorang membaca buku ini kemudian merasuk sesuatu (yang buruk) pada sanubarinya, atau ia menganggap baik sesuatu yang sebenarnya buruk.” [hal. 65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Syaikh tentang menerima periwayatan Ahli Bid’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “periwayatan dari ahli bid’ah memiliki perincian, yaitu ada dua segi : Pertama, apabila dia seorang yang menyeru kepada bid’ahnya, maka tidak diriwayatkan darinya sedikitpun tanpa terkecuali. Kedua, apabila ia adalah orang yang terancukan dengan bid’ah namun ia tidak menyeru kepada bid’ahnya tersebut, yang demikian inilah yang dibolehkan oleh para salaf meriwayatkan darinya.” [hal. 128]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Syaikh tentang hukum asal seorang muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ditanya, “apakah hukum asal seorang muslim itu adalah adil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Syaikh menjawab, “Hukum asal seorang muslim adalah ia tidak dijarh dan tidak pula dita’dil, melainkan setelah tampak adanya perkara yang mengharuskannya dijarh atau dita’dil. Oleh karena itulah kita tidak menerima hadits dari orang yang majhūl (tidak dikenal) keadaannya. [hal. 130]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Syaikh tentang mencukupkan diri dengan buku Jarh wa Ta’dil ulama kontemporer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh hafizhahullahu ditanya, “Apakah kita hanya mencukupkan diri dengan buku-buku ulama kontemporer di dalam Jarh wa Ta’dil ataukah ulama lampau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Syaikh hafizhahullahu menjawab, “Ulama kontemporer, mereka meneliti buku-buku ulama terdahulu dan kalian dapatkan hasilnya yang kini berada di tengah-tengah kita, tanpa ada sesuatupun yang baru. Aku menasehatkan kepada para penuntut ilmu untuk membaca buku ulama terdahulu dan kontemporer, meskipun karya ulama terdahulu telah mercukupi, karena mereka adalah pondasi yang dibangun di atas mereka (ilmu ini).” [hal. 146]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Syaikh tentang menyingkat sholawat kepada Nabi dengan saw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh hafizhahullahu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “termasuk diantara kesalahan para penulis saat ini adalah mereka menulis shighah sholawat kepada Rasul kita yang mulia dengan disingkat menjadi “ص” atau “صلعم” –atau disingkat saw- atau dipendekkan menjadi “Shallallahu” atau “alaihis Salam” saja, padahal selayaknya menghimpun antara sholawat dan salam sekaligus, maka kita katakan “Shallallahu ‘alaihi wa Salam” baik dengan ucapan maupun tulisan, sebagaimana firman Alloh Ta’ala : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzaab : 56). . [hal. 137]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Syaikh tentang ucapan karomallohu wajhaju kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh hafizhahullahu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “termasuk kesalahan yang para penulis kontemporer banyak terjerumus ke dalamnya dan juga para penulis terdahulu, adalah penulisan karomallohu wajhahu atau ‘alaihi Salam setelah menyebutkan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu… Hal ini, walaupun sekalipun maknanya benar, namun sepatutnya mempersamakan diantara para sahabat di dalam penyebutannya, karena hal ini termasuk bab pengagungan dan pemuliaan, maka Syaikhain (Abu Bakar dan ‘Umar) dan Amirul Mu’minin ‘Utsman adalah lebih utama, semoga Alloh meridhai mereka semua.” [hal. 137-138]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian terhadap Imam al-Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau hafizhahullahu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ada dua orang, yang penuntut ilmu merasa tercukupi denga buku karya keduanya di dalam ilmu hadits, yaitu Ibnu Hajar dan al-Albânî rohmatullahi ‘alahimâ. [hal. 58]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian terhadap Imam Ibnu Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menukil ucapan al-Hafizh Ibnu Hajar tentang biografi Ibnul Mubarok rahimahullahu yang dikatakan oleh al-Hafizh sebagai Tsiqoh tsabt, faqih ‘âlim, Syaikh mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Orang yang semisal dengan beliau di zaman ini adalah Syaikh kami, al-Imam Syaikhul Islam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz.” [hal. 115]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian terhadap Hafizh al-Hakami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Telah meninggal al-Hazimi rahimahullahu dan umur beliau adalah 35 tahun. Adz-Dzahabi berkata tentang beliau di dalam kitabnya “Man yu’tamadu qouluhu fil Jarhi wat Ta’dil” : “Beliau wafat dalam keadaan masih muda belia”. Beliau memiliki kitab lainnya, judulnya “al-I’tibaar fin Nâsikh wal Mansūkh minal Âtsar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Orang yang seperti beliau di zaman ini adalah Hafizh al-Hakami rahimahullahu, beliau wafat dan umur beliau adalah 35 tahun. Tulisan-tulisan beliau tersebar di perpustakaan-perpustakaan dan para penuntut ilmu banyak memetik faidah darinya…” [hal. 27 – catatan kaki]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sekilas resensi buku ini, Semoga bermanfaat…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-6172091275253730606?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/6172091275253730606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=6172091275253730606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/6172091275253730606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/6172091275253730606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/memetik-secuil-faidah-dari-buku-ithful.html' title='MEMETIK SECUIL FAIDAH DARI BUKU “Ithâful ‘Ibâd bi-Fawâidi Durūsi as-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbâd”'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-6437375666995100538</id><published>2008-03-01T20:00:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T22:54:47.242-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wahai Mujahidin'/><title type='text'>Wahai Mujahidin</title><content type='html'>&lt;a href="http://abusalma.wordpress.com/2008/02/16/wahai-mujahidin/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin !!!&lt;br /&gt;Sebuah Nasehat dan Klarifikasi bagi Mujahidin yang salah langkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh : Ustadz Abdurrahman bin Thoyib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dicopy dari&lt;br /&gt;http://abusalma.wordpress.com/2008/02/16/wahai-mujahidin/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda : “Akan muncul sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak menelusuri jejakku (petunjukku) dan tidak mengikuti sunnahku dan akan muncul pula diantara mereka orang-orang yang berhati setan dalam tubuh manusia. Aku berkata : Wahai Rasulullah apa yang harus saya perbuat jika saya menemui hal tersebut ? Beliau menjawab : Engkau wajib mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu, dengar dan taatilah“. [HR.Muslim no.4762 dengan Syarah Imam Nawawi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam hadits ini dengan jelas dan gamblangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada umatnya terutama para Mujahidin, bagaimana menyikapi para penguasa yang tidak berhukum dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ataupun tidak menjalankan syariat Islam dan dia pun menyimpang dari sunnahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya agar tetap mendengar serta taat kepada sang penguasa dalam hal yang ma’ruf bukan maksiat, meskipun penguasa tersebut berbuat dzalim seperti merampas harta rakyat (korupsi) ataupun berbuat aniaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim yang telah mengikrarkan syahadat “Wa anna Muhammadan Rasulullah” tidak selayaknya untuk menyelisihi hadits/ajaran Nabi diatas ini, meski pahit rasanya tapi Insya Allah akibatnya akan baik, sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “…. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS.An-Nisa’ : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin yang ingin menegakkan kalimatullahi (agama Allah), dengarkan nasehat dari Rasulullah ini ! Pahamilah dengan baik sabda beliau ini ! Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu atau semangat yang membara untuk berjihad tapi buta dari petunjuk Al-Qur’an dan sunnah ! Wahai saudaraku Mujahidin, pejuang Islam, ingat dan ketahuilah bahwa niat dan tujuan yang baik haruslah dijalankan dengan cara yang baik pula yaitu mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan jalannya para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang tidak sesuai dengan sunnahku maka amal tersebut tertolak”. (HR.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ Ar-rosyidin yang mendapatkan petunjuk dan gigit eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian”. (HSR.Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, janganlah engkau memberontak kepada penguasa yang dzalim karena hal itu telah dilarang oleh Nabi kalian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyeru kami untuk membaiat beliau, diantara isi baiat tersebut adalah kami selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin kaum muslimin) baik kami dalam keadaan suka maupun benci, dalam keadaan susah maupun senang dan agar kami mendahulukan hak mereka serta tidak memberontak kepada mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah tentangnya”.[ HR.Muslim no.4748 dengan Syarah Imam Nawawi] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kalian ketahui bahwa masalah takfir/pengkafiran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Imam Al-Qurthubi Rahimahullahu mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Pemikiran takfir itu sangat berbahaya sekali, banyak manusia yang terjerumus kedalamnya hingga mereka jatuh berguguran. Adapun para ulama mereka berhati-hati sekali dalam masalah ini hingga mereka itu selamat, dan tidak ada yang sebanding dengan keselamatan dalam perkara ini”. [Al-Mufhim 3/111 oleh Imam Qurthubi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seandainya kita dapati seorang pemimpin mengucapkan suatu ucapan kufur atau melakukan perbuatan kufur, tidaklah boleh kita langsung menvonisnya kafir dan menyeru manusia untuk memberontak hingga terpenuhi syarat-syarat takfir dan hilang darinya pencegah-pencegah takfir. Lihat dan ambillah pelajaran dari sejarah ulama salaf seperti Imam Ahmad Rahimahullahu yang tidak mudah mengkafirkan maupun memberontak kepada penguasa dizamannya yang dengan jelas-jelas mengucapkan ucapan kufur bahkan memaksa para ulama untuk mengikuti kekufurannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Yang benar dari Imam Ahmad dan para Imam Ahlus Sunnah yang lain adalah pengkafiran kelompok Jahmiyah* dan yang semisalnya…meskipun Imam Ahmad tidak mengkafirkan individu-individunya atau tidak pula mengkafirkan orang-orang yang divonis sebagai Jahmiyah atau beliau tidak mengkafirkan orang-orang yang menyepakati Jahmiyah dalam sebagian bid’ahnya, bahkan beliau sholat dibelakang orang-orang Jahmiyah yang menyeru manusia kepada ucapan mereka serta menguji dan menyiksa manusia yang tidak sesuai dengan aqidah mereka dengan penyiksaaan yang amat pedih. Imam Ahmad dan para Imam-imam (Ahlu Sunnah wal jama’ah) yang lain tidak mengkafirkan mereka bahkan meyakini akan keimanan dan kepemimpinan mereka serta mendoakan mereka dengan kebaikan. Beliau berpendapat bolehnya sholat dibelakang mereka, haji dan berperangbersama mereka.Dan beliau beserta para imam-imam amat melarang dari memberontak terhadap penguasa. Meskipun demikian beliau tetap mengingkari ucapan batil yang merupakan suatu kekufuran tersebut walaupun mereka sendiri terkadang tidak mengetahui akan kekufuran itu. Beliau senantiasa mengingkari dan berusaha untuk membantah ucapan tersebut sesuai dengan kemampuan. Maka dengan inilah beliau telah menyatukan antara ketataatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menegakkan sunnah serta agama ini dan pengingkaran terhadap bid’ahnya Jahmiyah dengan memperhatikan hak-hak kaum mukminin baik para penguasa maupun umat secara umum meskipun mereka itu jahil, pelaku bid’ah, dzolim dan fasik”. [Majmu’ Fatawa 7/507-508 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Catatan : * Kelompok Jahmiyah dipelopori oleh Ja’ad bin Dirham yang dihukum (sembelih) oleh seorang gubernur yang bernama Kholid bin Abdillah Al-Qosri atas perintah Kholifah Hisyam bin Abdil Malik dengan persetujuan para ulama tabi’in pada zaman itu. Dan kesesatannya diwarisi serta disebarkan oleh Jahm bin Sofwan. Diantara kesesatannya adalah meniadakan semua nama dan sifat Allah, tidak mengakui bahwa Nabi Ibrahim adalah kholilullah (kekasih Allah) serta Musa kalimullah (pernah diajak bicara oleh Allah) dan lain-lain. (Lihat Maqoolathut ta’thil oleh Syaikh Kholifah At-Tamimi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, janganlah kalian menuduh orang yang tidak mengkafirkan penguasa sebagai penjilat atau antek pemerintah ! Jangan kalian menganggap atau menyangka bahwa kalau orang tersebut tidak mengkafirkan penguasa berarti dia ridho dengan kedzaliman yang ada pada mereka !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa “ (QS.Al-Hujurat : 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedakan antara mengkafirkan dan mengingkari kemungkaran! Orang yang tidak mengkafirkan pezina –misalnya-, apakah bisa dikatakan orang itu ridho dengan perbuatan maksiat tersebut ?! Ikutilah jejak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para salafush sholeh seperti Imam Ahmad Rahimahullahu diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : ” Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. “ (QS.Al-An’am : 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, janganlah tergesa-gesa meneriakkan suara (Shoutu) jihad sebelum kalian memahami dengan benar sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam khususnya yang berkaitan dengan penguasa. Tergesa-gesa bukan perangai yang baik bahkan akan mengakibatkan madharat yang banyak sekali bagi Islam dan kaum muslimin. Para ulama ushul (fiqih) mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang tergesa-gesa (untuk meraih) sesuatu sebelum waktunya maka dia akan dicegah darinya [Al-Qowaaid Al-Fiqhiyah hal.68 oleh Syaikh Abdurrohman As-Sa’di]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, ingatlah tatkala seorang sahabat yang bernama Khobab bin Arot berkata : Kami pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Wahai Rasulullah, mengapa anda tidak meminta pertolongan (kepada Allah) untuk kami ? Mengapa anda tidak berdoa kepada Allah untuk kami ?” Maka beliaupun menjawab : “Sesungguhnya ada diantara orang-orang sebelum kalian yang digergaji mulai kepalanya hingga kakinya, tapi hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga mengenai tulang dan dagingnya, tapi hal itu tidak memalingkannya dari agamanya”. Kemudian beliau mengatakan : “Demi Allah, sungguh Dia akan menyempurnakan agama-Nya ini hingga seorang yang berjalan dari Shon’a (Ibukota Yaman) hingga Hadramaut tidak takut kecuali hanya kepada Allah dan tidak takut srigala yang memangsa kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa“. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/328 tentang tafsir ayat 214 surat Al-Baqarah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah wahai Mujahidin, kemenangan dan kemuliaan Islam ada ditangan Allah. Dan Allah telah menjanjikannya kepada kaum muslimin dan kepada para Mujahidin, tapi dengan syarat mereka mau kembali kepada agama Islam yang murni dan kepada tauhid yang bersih dari segala bentuk kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “ Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (QS.Ali Imron : 26) dan Dia juga berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS.An-Nuur : 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لاينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (sejenis riba) dan kalian mengambil ekor-ekor sapi serta rela dengan persawahan (cinta dunia) dan kalianpun meninggalkan jihad maka pasti Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. [ HR.Abu Daud no.3462]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan jalan keluar dari kehinaan yang menimpa umat Islam yaitu dengan cara kembali mempelajari Islam yang murni berdasarkan kepada Al-Qur’an, hadits serta atsar dari para sahabat dan mengamalkan Islam yang murni tersebut. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memerintahkan umat untuk berjihad saja, tapi lebih dari itu “…hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian” terutama dalam masalah aqidah. Bagaimana kalian menyeru umat Islam untuk berjihad melawan orang-orang kafir sekarang, sedang kalian mengetahui sendiri keadaan kaum muslimin dengan setumpuk kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan dan lain sebagainya dari penyimpangan-penyimpangan ?! Bagaimana mungkin Allah akan menurunkan pertolongan-Nya, sedangkan kaum muslimin belum menolong (menjalankan agama) Allah ?! Allah telah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS.Muhammad : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, ambillah pelajaran dari kisah perang Uhud ! Satu kemaksiatan saja dapat memporak-porandakan pasukan kaum muslimin, lalu bagaimana jika kemaksiatan tersebut telah mengakar dalam diri kaum muslimin dan menumpuk dimana-mana ?! Allah mengisahkan tentang sebab kekalahan diperang Uhud dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.Ali Imron : 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan hitam untuk Buletin Shoutul Jihad edisi 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1- Shoutul Jihad menukilkan ucapan Yunus bin Ubeid Rahimahullahu salah seorang ulama salaf yang mengatakan : “Bila ada pemerintah yang menyimpang dari As-Sunnah, dan masyarakat berkata : “Sungguh kita telah diperintahkan untuk taat kepadanya (pemerintah kita) maka Allah akan menanamkan keraguan dihatinya dan akan ditimpa (diwariskan) kepadanya sifat saling mencela”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sangat amat menghormati ulama salaf dan ucapan mereka kita jadikan hujjah selama tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun sayang Shoutul Jihad tidak menjelaskan dari mana mereka menukil atsar ini. Imam Malik Rahimahullahu mengatakan :&lt;br /&gt;ليس أحد بعد النبي إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap ucapan manusia bisa diterima dan bisa juga ditolak melainkan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”. [Lihat Sifat Sholat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hal.24 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, bukankah ucapan Yunus bin Ubeid bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diatas ?! Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap memerintahkan untuk taat kepada pemerintah kaum muslimin meski mereka menyimpang dari sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?! Manakah yang kalian pilih ucapan Yunus bin Ubeid ataukah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?! Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Hujurat : 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata : “Aku melihat mereka akan binasa, aku mengatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (membolehkan haji tamattu’) sedang mereka (membantahnya) dengan mengatakan Abu Bakar dan Umar (melarangnya)”. [Lihat Sunan Ad-Darimi 1/129] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak boleh dibantah dengan ucapan orang termulia dikalangan para sahabat, maka bagaimana dengan ucapan orang yang lebih dibawah mereka derajat dan keutamaannya ?! Renungkanlah hal ini baik-baik wahai Mujahidin sebelum kalian meneriakkan jihad !!! Sungguh bagaimana bila seorang salafusshaleh seperti Abdullah bin Abbas hidup pada zaman sekarang dan melihat tingkah laku shoutul jihad ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2- Shoutul Jihad mengkritik Buletin Al-Hujjah (terbitan Mataram-Lombok Barat) dengan mengatakan : “Di Indonesia para pencatut nama salaf ini dilanda penyakit mencela. Sebagai contoh dalam bulletin Al-Hujjah terbitan ’salafy’ Mataram risalah yang ke 13….Penyakit suka mencela telah nampak dalam tulisan ini dalam kalimat doyan. Kata ini merupakan celaan yang sangat tidak sopan baik menurut ukuran umat Islam atau yang bukan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya meskipun saatnya Mujahidin berbicara [Buletin Shoutul Jihad mempunyai slogan “Saatnya Mujahidin berbicara”.] tapi ya bercermin dulu dong kalau mau berbicara ! Lihat apakah ucapan kalian ini memang bisa dipertanggung jawabkan di hadapan Allah nanti atau tidak ! Apakah setiap ucapan kalian berdasarkan dalil atau hanya berdasarkan semangat yang membabi buta tanpa petunjuk rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?! Kalimat “doyan” kalian anggap sebagai bentuk celaan, padahal dalam buletin kalian banyak kalimat-kalimat yang lebih parah lagi semisal : Penyakit para pengaku salaf ’salafy’ (Tanda Kutip), menjilat pemerintah, sok salaf, para pengaku salaf (sok salaf) ini sikapnya sama dengan Khawarij…Murjiah….Syiah Rafidhah…Sufi…anjing penjilat dan lain-lain. Apakah kalimat-kalimat tersebut udah sopan menurut kalian ?! Inikah sikap seorang Mujahidin ?! Orang lain diharamkan mencela tapi kalian justru pandai dan ahli mencela. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(*)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS.Shaaf : 2-3) Seorang penyair mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحلال على البلابل الدوح حرام على الطير من كل جنس ؟!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pohon itu dibolehkan bagi burung Bulbul saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan diharamkan bagi semua jenis burung ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3- Shoutul Jihad mengatakan “Al-Madkhaly dengan pikirannya telah banyak melahirkan takfiriyyiin sesama para dai (baca tulisan terbuka Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi hafidzahullaah kepada Robi’ al-Madkhaly).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, kalau ucapan atau tuduhan kalian ini benar, tolong buktikan kepada para pembaca bahwa Al-Madkholi melahirkan takfiriyyiin ?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar“.” (QS.Al-Baqarah : 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البينة على المدعي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Wajib bagi para penuduh untuk mendatangkan bukti…” [HR.Baihaqi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shoutul jihad mencela Syaikh Robi’ Al-Madhkholi –hafidzahullahu- dan menuduh beliau melahirkan takfiriyyin dengan tidak membawakan bukti atau tidak ada bukti yang jelas dalam hal ini. Tapi yang aneh justru shoutul jihad memuji Abu Muhammad Al-Maqdisi yang merupakan dedengkot takfir/pengkafiran pada zaman ini. Inikah yang dikatakan : Gajah di pelupuk mata tidak tampak namun debu diseberang lautan tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Muhammad ini telah mengkafirkan negara Saudi Arabiah tempat dua masjidil Haram dan sekaligus kiblat kaum muslimin dalam bukunya yang berjudul “Al-Kawaasyif Al-Jaliyah fi kufri Ad-Daulah As-Su’udiyah” (Menyingkap kekufuran Negara Saudi Arabiah). Dari judulnya saja sudah cukup untuk mengetahui isinya. Kalau Saudi Arabiah sudah dikafirkan, apalagi yang tersisa ?! Ataukah kalian sudah punya negara Islam ?! Takutlah kepada Allah wahai Mujahidin !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4- Shoutul jihad mengambil ucapan Abu Muhammad yang menyamakan Dakwah Salafiyah dengan Khawarij, Murjiah, Syiah Rafidhah, dan Sufi. Abu Muhammad mengatakan : “Para pengaku salaf (sok salaf) ini sikapnya sama dengan Khawarij ketika mendudukkan permasalahan sesama para dai, terbukti sikapnya terhadap Sayyid Qutub rahimahullahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah Abu Muhammad atau shoutul jihad yang tidak mengerti siapa Khawarij itu ?! Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kelompok Khowarij adalah orang pertama yang mengkafirkan kaum muslimin dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka serta menghalalkan darah serta hartanya”. [Majmu fatawa 7/279.] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan pembaca yang menghukumi siapa yang Khawarij, Abu Muhammad Al-Maqdisi yang mengkafirkan Negara Saudi Arabiah ataukah Shoutul jihad pembeo Abu Muhammad ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah orang (Dakwah Salafiyah) yang membela para Nabi dan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari celaan dan caci maki Sayyid Qutub dikatakan Khawarij ?! Tidakkah para pengagum Sayyid Qutub tahu bahwa sang pujaan mereka telah berani-beraninya mencaci maki sebagian Nabi dan para sahabat ?! Sayyid Qutub mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kita ambil Musa sebagai contoh pemimpin yang cepat naik pitam…” [At-tashwir al-fanni fil Qur’an” hal 200 oleh Sayyid Qutub] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutub juga mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ketika Mu’awiyah dan temannya memilih jalan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan, suap dan membeli kehormatan, maka Ali tidak dapat melakukan perangai yang buruk ini. Oleh karenanya, tidak heran kalau Mu’awiyah dan teman-temannya berhasil sedang Ali gagal, tapi kegagalan ini lebih mulia dari semua kesuksesan” . [Kutubun wa syakhshiyaat hal.242 oleh Sayyid Qutub]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abu Muhammad mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Para pengaku salaf (sok salaf) sikapnya sama dengan Murjiah ketika berhadapan dengan penguasa terbukti dalam menghadapi penguasa yang ada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Mujahidin, jangan gegabah dalam menvonis sebelum engkau tahu apa dan siapa Murjiah itu !!! Dakwah Salafiyah ketika menghadapi penguasa selalu bernaung dibawah cahaya Al-Qur’an dan hadits Nabi serta metode para ulama salaf. Dakwah Salafiyah tidak mudah mengkafirkan para penguasa karena mengikuti ajaran Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (seperti hadits diatas) dan juga mengikuti sikap para ulama salaf seperti Imam Ahmad rahimahullahu. Apakah Imam Ahmad Rahimahullahu yang tidak mengkafirkan penguasa dizaman beliau dan tidak mau memberontak, meskipun sang penguasa amat dzalim bahkan memiliki keyakinan yang kufur dikatakan Murjiah ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abu Muhammad mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Para pengaku salaf (sok salaf) sikapnya sama dengan Syiah Rafidhah terbukti dalam mengamalkan ibadah jihad mereka berdalih menunggu bimbingan ulama yang besar (baca buletin Al-Hujjah, risalah ke 13) sedang Syiah Rafidhah menunggu ulama yang ma’shum alias Imam Mahdi“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin para pembaca tidak habis pikir, bagaimana Dakwah Salafiyah bisa disamakan dengan Syiah Rafidhah ?! Ya kita maklumi saja lah, mungkin Abu Muhammad dan Shoutul jihad tidak paham atau tidak tahu tentang siapa Syiah atau siapa Salafy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya menunggu bimbingan ulama kibar (besar) dalam masalah jihad atau masalah besar lainnya yang berkaitan dengan umat merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini berlainan dengan orang-orang munafik atau orang-orang yang ngelama’ (sok jadi ulama) yang tidak mau mengembalikan urusan umat kepada para ulama’nya. Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : ” Dan apabila datang kepada mereka (orang-orang munafik) suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS.An-nisa’ : 83) yang dimaksud dengan ulil amri adalah para ahli ilmu (ulama) dan ahli fiqh (fuqoha’). [Lihat tafsir Imam Al-Qurthubi 5/278]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abu Muhammad mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Para pengaku salaf (sok salaf) sikapnya sama dengan sufi dalam manhajnya tashfiyah wat tarbiyah“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh malang nasib Abu Muhammad yang tidak tahu arti tashfiyah dan tarbiyah. Tashfiyah adalah memurnikan Islam dari segala virus dan kotoran yang menempel kepadanya seperti memurnikan Islam dari aqidah sesat, hadits lemah atau palsu ataupun dari virus takfir yang dilakukan oleh takfiriyyun semisal Abu Muhammad. Apakah sufi mengenal istilah pemurnian Islam dari hadits lemah atau palsu ?! Sadarlah wahai Mujahidin, boleh kalian berbicara tapi jangan ngelantur !!! Adapun tarbiyah artinya mendidik umat diatas Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shaleh. Apakah sufi juga mengamalkan seperti ini ?! Bukankah Sufi itu lebih identik dengan khurafat dan bid’ahnya ?! Wahai Mujahidin, janganlah kalian menyamakan antara Dakwah Salafiyah yang selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shaleh dengan ahli bid’ah diatas !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلَا الْمُسِيءُ قَلِيلًا مَا تَتَذَكَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS.Ghafir : 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5- Shoutul jihad hanya bisa lempar batu sembunyi tangan, tidak berani menunjukkan batang hidung ataupun identitasnya. Sebuah buletin misterius, yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keilmiahannya. Kalau kalian takut, jangan teriakkan suara (shoutul) jihad dong !!! Mujahidin apaan tuh !!! Kelas teri atau keras gadungan ?! Apakah ini yang disebut tong kosong nyaring bunyinya ?! Menyeru orang berjihad tapi tidak berangkat jihad, bahkan menulis majalah saja takut menulis jati dirinya. Inna lillahi wa inna ilahi Roji’un.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman, ulama hadits terdahulu tidak mau menerima hadits/ilmu agama dari orang yang misterius seperti buletin shoutul jihad ini dan hal itu dikenal dengan istilah mubham. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolaani Rahimahullahu berkata : “Dan tidak diterima (hadits) dari orang yang mubham (misterius)…” [Lihat An-Nukat ‘ala nuzhatin nazhor oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi hal.135]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata : “Adapun mubham yang tidak bernama (mr x) atau ada namanya tapi tidak diketahui jati dirinya (misterius), maka orang seperti ini tidak diambil riwayat haditsnya (ilmunya) oleh seorangpun (dari para ulama) yang kita ketahui”. [Al-Ba’itsul hatsits hal.69 oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan wahai Mujahidin, semoga Allah selalu memberimu hidayah dan taufiq serta menyelamatkan kalian dari jaring-jaring Khawarij. Dan semoga bendera Jihad selalu berkibar dibawah naungan para ulama Robbaniyyin Ahlus sunnah wal jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah tunjukkanlah yang haq itu haq dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah yang batil itu batil serta berikan kami kekuatan untuk menjauhinya. &lt;a href="http://http://abusalma.wordpress.com/2008/02/16/wahai-mujahidin/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-6437375666995100538?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/6437375666995100538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=6437375666995100538' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/6437375666995100538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/6437375666995100538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/wahai-mujahidin.html' title='Wahai Mujahidin'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6098632568607559611.post-1432135615828625181</id><published>2008-03-01T19:55:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T20:00:31.860-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siapakah Ahlul Hadits'/><title type='text'>Siapakah Ahlul Hadits</title><content type='html'>&lt;h2 align="center"&gt;&lt;span style="color:#800000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;SIAPAKAH AHLUL HADITS ???&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Oleh: Syaikh Walid bin Muhammad Saif An-Nashr &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;حفظه الله-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;dicopy dari : http://abusalma.wordpress.com/2008/02/25/siapakah-ahlul-hadits/&lt;br /&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;قال تعالى: ” وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Allah berfirman: “Merekalah yang berhak dengan kalimat takwa dan patut memilikinya.” (QS. Al Fath: 26).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وعلى آله وصحبه أما بعد: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Berikut ini pembahasan secara ringkas tentang golongan yang mendapat pertolongan, Ahlul Hadits dan Atsar, serta sebagian keutamaan mereka dan penjelasan singkat akan kemuliaan mereka. Kami berdoa kepada Allah mudah-mudahan pembahasan ini bermanfaat, dan mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka atau termasuk orang-orang yang mengerumuni hidangan mereka dan menghadiri majelis-majelis mereka, sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-686"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN AHLUL HADITS …?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Qodli Iyadl Rahimahullahu berkata mengomentari perkataan Imam Ahmad “Kalau mereka bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak mengetahui siapakah mereka”. Beliau berkata: “Yang dimaksud Ahmad adalah setiap orang yang meyakini madzhab Ahlu Hadits.” (lihat &lt;i&gt;Tuhfatul Ahwadzi&lt;/i&gt;: 6/434).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Kami tidak memaksudkan Ahlul Hadits hanya orang-orang yang mendengar atau menulis dan meriwayatkan hadits,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;akan tetapi yang kami maksud adalah setiap orang yang menghafal, mengetahui, memahami dan mengikutinya secara lahir dan batin.” (lihat &lt;i&gt;Majmu’ Fatawa&lt;/i&gt;: 4/95).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Syaikhul Islam Rahimahullahu juga berkata: “Ahlul Hadits dan Sunnah, mereka adalah manusia yang tidak memiliki panutan untuk diikuti kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka adalah manusia yang paling mengetahui perkataan dan perbuatan beliau, paling dapat membedakan antara hadits yang shohih dan yang lemah. Para imam hadits adalah ulama’ yang faqih, mereka adalah manusia yang paling memahami makna hadits dan mengikutinya dengan keyakinan, perbuatan, kecintaan dan loyalitas.” (lihat &lt;i&gt;Majmu’ Fatawa&lt;/i&gt;: 3/347). &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;DIANTARA KEUTAMAAN AHLUL HADITS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;1. Mereka pembawa dan penjaga agama ini.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mensifati Ahlul Hadits dengan sabdanya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” يَحْمِلُ هَذَا العِلْمَ مِن كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُه، يَنْفُونَ عَنهُ تَحْرِيفَ الغَالِينَ، وَاْنتِحَالَ المُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الجَاهِلِينَ.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Yang membawa ilmu (agama) ini adalah orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka melenyapkan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas dan kedustaan orang-orang yang batil serta ta’wil orang-orang yang bodoh.” (HR. Ibnu Abi Hatim di &lt;i&gt;muqoddimah al jarh wa ta’dil&lt;/i&gt; (1/1/17), Baihaqi di &lt;i&gt;sunan kubro&lt;/i&gt; (10/209), Ibnu Abdil Bar di tamhid (1/59), dan yang lainnya dengan sanad Hasan Lighoirih, aku telah &lt;span&gt; &lt;/span&gt;mentakhrij hadits ini dan telah aku jelaskan pula jalur-jalurnya dan penguat-penguatnya dikitab &lt;i&gt;Asy Syari’ah&lt;/i&gt; (karya Al-Ajuuri,pent) hal-2). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Al-Khotib al-Baghdadi Rahimahullahu berkata menjelaskan hadits diatas: “Ini adalah persaksian dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya Ahlul Hadits mereka adalah pembawa bendera agama ini dan imam-imam kaum muslimin yang menjaga syari’at ini dari penyimpangan, kedustaan yang batil dan membantah ta’wil orang-orang yang bodoh. Maka wajib mengembalikan dan mempercayakan urusan agama ini kepada mereka –semoga Allah meridhoi mereka-. (dinukil dari tafsir Qurthubi: 1/26).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Abu Dawud Rahimahullahu berkata:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;” لَوْلاَ هَذِهِ العِصَابَةُ لاَنْدَرَسَ الإسْلاَمُ – يَعْنِي أَصْحَابَ الْحَدِيْثِ الَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ اْلآثَارَ ” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Kalaulah bukan karena golongan ini, niscaya Islam akan hilang, yaitu Ahlul Hadits yang menulis atsar.” (lihat &lt;i&gt;Syarofu Ashabil Hadits&lt;/i&gt;: 106, karya: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;al-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Khotib al-Baghdadi Rahimahullahu).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Sufyan Ats Tsauri Rahimahullahu berkata: &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;” الملائكةُ ح&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;ُ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;رَّاسُ السَمَاءِ وأهلُ الحديثِ حُرَّاسُ الأرضِ “&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Malaikat adalah penjaga langit, dan Ahlul Hadits adalah penjaga bumi.” (lihat &lt;i&gt;Syarofu Ashabil Hadits&lt;/i&gt;: 85).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Al-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Hafidz Abdullah bin Dawud Al-Khuraibi Rahimahullahu berkata:”Aku telah mendengar para imam-imam dan para pendahulu kami berkata: “Sesungguhnya Ahlul Hadits dan pembawa ilmu (agama ini) mereka adalah manusia kepercayaan Allah yang membawa agama-Nya dan menjaga Sunnah Nabi-Nya dengan apa yang mereka ketahui dan mereka amalkan”.(lihat &lt;i&gt;Syarofu Ashabil Hadits&lt;/i&gt;: 83). &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Yazid bin Zurai’ Rahimahullahu berkata:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;” لِكُلِّ دِيْنٍ فُرْسَانٌ وَفُرْسَانُ هَذَا الدِيْنِ أَصْحَابُ الأَسَانِيْدِ “&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Setiap agama mempunyai pahlawan, dan pahlawan agama ini adalah &lt;i&gt;ashabul asanid&lt;/i&gt; (perowi Hadits)”. (lihat &lt;i&gt;Syarofu Ashabil Hadits&lt;/i&gt;: 86).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Al-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Khotib al-Baghdadi Rahimahullahu berkata: “Tuhan semesta alam telah menjadikan &lt;i&gt;thoifah al manshuroh&lt;/i&gt; (kelompok yang&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;mendapat pertolongan) sebagai pembela agama ini. Mereka melawan tipu daya orang-orang yang menyimpang dengan keteguhan mereka terhadap syari’at yang kokoh ini. Mereka mencukupkan diri dengan mengikuti atsar para sahabat dan tabi’in.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Kesibukan mereka adalah menjaga atsar. Mereka mengarungi padang pasir yang tandus lagi sepi dan menyeberangi daratan serta lautan untuk mengumpulkan syari’at (hadits-hadits) Mushtofa n. Mereka tidak berpaling darinya (sunnah) dengan mengkuti pendapat dan hawa nafsu. Mereka menerima syari’at dengan perkataan dan perbuatan, mereka menjaga sunnahnya dengan hafalan dan periwayatan, mereka menetapkan sumbernya, maka merekalah orang yang berhak dengan sunnah dan yang patut memilikinya. Berapa banyak para penyimpang yang hendak mencampur syari’at dengan sesuatu yang bukan darinya, namun Allah Ta’ala membela agama-Nya dengan Ahlul Hadits. Mereka adalah penjaga pondasi-pondasi agama, mereka tegak dengan perintah dan urusannya. Apabila ada orang yang berpaling dari agama ini maka merekalah yang membela agama. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (lihat &lt;i&gt;Syarofu Ashabil Hadits&lt;/i&gt; hal-10).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;2. Mereka manusia yang lebih berhak dengan sebutan Ath-Thoifah Al-Manshuroh dan Al-Firqoh An-Najiyah. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;“لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتىَّ يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ “.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang tegak dengan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan dan menyelisihi mereka sampai datangnya keputusan Allah (hari kiamat), sedangkan mereka selalu nampak dihadapan manusia”. (&lt;i&gt;Muttafaqun alaih&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;HR. Bukhori: 3116, dan Muslim: 1924 dengan lafadznya dari hadits Muawiyah dan yang lainnya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Telah ditafsirkan makna Ath Thoifah Al-Manshuroh dan Al-Firqoh An-Najiyah dengan Ahlul Hadits. Ibnu Mubarok Rahimahullahu berkata: “Mereka menurutku adalah Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits hal-26).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Ibnul Madini dan Bukhori Rahimahullahu berkata: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ahlul Hadits hal-27).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Yazid bin Harun dan Ahmad bin Hambal Rahimahullahu berkata:&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;” إِنْ لَمْ يَكُوْنُوْا أَصْحَابَ الْحَدِيْثِ، فَلاَ أَدْرِي مَنْ هُمْ؟ “.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Kalau mereka bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak mengetahui siapakah mereka”. (lihat Syarofu Ashabil Hadits hal-26,27,49).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Ahmad bin Sinan Rahimahullahu berkata: “Mereka adalah para Ulama’ dan Ahlul Atsar (Ahlul Hadits). (lihat Syarofu Ashabil Hadits hal-27).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Al-Khotib al-Baghdadi Rahimahullahu berkata: “Allah telah menjadikan Ahlul Hadits sebagai pondasi syari’at dan melenyapkan dengan mereka setiap bid’ah yang sesat. Mereka adalah kepercayaan Allah dari makhluk-Nya, dan perantara antara Nabi n dan umatnya, serta orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam menjaga ajarannya. Cahaya mereka berkilauan, keutamaan-keutamaan mereka cemerlang, tanda-tanda mereka bersinar terang, madzhab mereka nampak, hujjah-hujjah mereka sangat kuat. Seluruh golongan mengedepankan hawa nafsu atau menganggap baik sebuah pendapat dalam mengembalikan suatu permasalahan, kecuali Ahlul Hadits; kitabullah senjata mereka, sunnah Rasulullah hujjah mereka, Rasul n golongan mereka, kepadanya mereka menisbatkan diri, mereka tidak condong kepada hawa nafsu dan tidak berpaling dengan pendapat. Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari Rasul diterima, karena mereka adalah orang-orang kepercayaan dan orang-orang yang adil, mereka penjaga dan pembela agama, mereka orang-orang yang memperhatikan ilmu dan pembawanya. Apabila ada hadits yang diperselisihkan, kepada merekalah tempat kembali, kalau mereka menghukumi maka keputusan mereka didengar dan diterima. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dari mereka semua (muncul) Ulama’ dan Fuqoha’, para imam yang mulia dan terhormat, orang yang zuhud dari setiap upah, dan mereka memiliki keutamaan yang mulia, serta pembaca Al-Qur’an yang mahir dan khotib yang fasih, mereka adalah golongan yang mulia dan jalan mereka adalah jalan yang lurus. Seluruh ahlu bid’ah memerangi aqidah mereka, namun terhadap madzhab selain madzhab Ahlul Hadits tidak memusuhinya. Maka siapa yang memusuhi mereka (yaitu Ahlul Hadits) niscaya Allah akan menghancurkannya, dan siapa yang menentang mereka niscaya Allah akan membinasakannya. Tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakannya dan tidak akan beruntung orang yang meninggalkannya. Orang-orang yang berhati-hati terhadap agamanya sangat membutuhkan nasehat mereka, dan orang-orang yang memandang mereka dengan kebencian pasti akan menyesal, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (lihat Syarofu ashabil Hadits hal 8-9). &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Madzhab Ahlul Hadits, mereka adalah salaf (orang-orang yang terdahulu) dari tiga generasi (pertama) dan siapa yang meniti jalan mereka.” (lihat Majmu’ Fatawa: 6/355).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Manusia yang lebih berhak menjadi golongan yang selamat adalah Ahlul Hadits dan Sunnah. Mereka tidak memiliki panutan yang diikuti kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka manusia yang paling mengetahui perkataannya dan perbuatan Nabi n. Mereka manusia yang paling membedakan antara hadits yang shohih dan yang lemah. Para imam hadits adalah ulama’ yang faqih, mereka adalah manusia yang paling memahami makna hadits dan mengikutinya dengan keyakinan, perbuatan, kecintaan dan loyalitas kepada siapa yang loyalitas terhadap sunnah. Mereka memusuhi siapa yang memusuhi sunnah, yaitu orang-orang yang menolak nash-nash yang bersifat global yang datang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka bukanlah orang yang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengambil perkataan, lalu menjadikannya sebagai dasar agama dan keyakinan mereka, walaupun tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasul, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang menjadikan seluruh apa yang dibawa Rasul n dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar yang mereka yakini dan jadikan sandaran.” (lihat Majmu’ Fatawa: 3/347). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;3. Jalan yang lurus dan benar bersama Ahlul Hadits dan Atsar. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Imam Ahmad Rahimahullahu berkata: “Ahlul Hadits adalah sebaik-baik manusia yang berkata tentang ilmu.” (Atsar Shohi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; diriwayatkan Khotib Baghdadi Rahimahullahu di Syarofu Ashabil Hadits: 95). Al-Auza’i Rahimahullahu juga berkata dengan yang semisalnya. (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 97).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Ibnul Mubarok Rahimahullahu berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;“أَثْبَتُ النَّاسِ عَلَى الصِرَاطِ أَصْحَابُ الْحَدِيْثِ”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Manusia yang paling teguh diatas jalan yang lurus adalah Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 117).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Imam Syafi’i Rahimahullahu berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” مَنْ كَتَبَ الْحَدِيْثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ “.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Siapa yang menulis Hadits akan kuat hujahnya.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 148).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Kholifah Harun Ar-Rosyid Rahimahullahu berkata: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” طَلَبْتُ الْحَقَّ فَوَجَدْتُهُ مَعَ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ “.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;“Aku mencari kebenaran, lalu aku mendapatinya bersama Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 110).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Manusia yang paling luas ilmunya (ilmu syar’i) dan paling dekat dengan Rasul, paling mengetahui perkataannya dan perbuatannya, gerak-geriknya dan diamnya, masuk dan keluarnya (dari rumah), lahir dan batinnya, paling mengenal sahabatnya, sejarahnya dan hari-harinya, paling besar perannya dalam mengumpulkan hadits dan meriwayatkannya, paling teguh dalam mentaatinya dan mengikutinya, dan menjadikannya sebagai suri tauladan, mereka adalah Ahlu Sunnah dan Hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;span&gt;Mereka menghafal sunnahnya dan mengetahui antara hadits yang shohih dan yang lemah dengan ilmu dan pemahaman yang Allah berikan kepada mereka dalam memahami maknanya, dengan keimanan, pembenaran, ketaatan dan ketundukan. Meraka mengikutinya dan mengambilnya sebagai suri tauladan. Mereka juga memiliki akal yang sangat kuat, memahami qiyas, mampu membedakan (antara hadits shohih dan lemah). Maka tidakkah orang-orang yang rendah agama dan akalnya mengetahui bahwasanya mereka adalah manusia yang berhak disifati dengan kejujuran, ilmu dan iman, yang berhak meneliti siapa yang menyelisihi mereka. Mereka mempunyai ilmu yang tidak diakui oleh orang-orang jahil dan ahli bid’ah, padahal apa yang ada di sisi mereka adalah kebenaran yang nyata. Adapun orang-orang yang jahil tentang urusan (petunjuk) mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka adalah orang-orang yang hina dan penuh dengan kesesatan.” (lihat Majmu’ Fatawa: 4/85, 4/49, 6/354).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Ibnu Qutaibah Rahimahullahu berkata: “Adapun Ahlul Hadits, mereka mencari kebenaran dari tempatnya dan mengambilnya dari sumbernya, mereka mendekatkan diri (beribadah) kepada Allah dengan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengumpulkan atsar-atsarnya (jejaknya) dan kabar-kabarnya (hadits-haditsnya) dari timur dan barat. Kemudian mereka senantiasa mencari kabar-kabar dan menelitinya sampai mereka mengetahui mana yang shohih dan yang lemah, yang nasikh (menghapus) dan mansukh (yang dihapus). Mereka juga mengetahui siapa yang menyelisihi dari (sebagian) ulama’ yang condong kepada pendapat, maka merekapun memperingatkan akan hal itu sehingga kebenaran nampak setelah ia tersembunyi sebelumnya, dan ia pun tinggi menjulang setelah sebelumnya hilang, dan ia berkumpul setelah sebelumnya bercerai-berai. Mereka menuntun&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;manusia kepada Sunnah setelah mereka melupakannya, sehingga manusia mengambil hukum dari Hadits Rasulillah n setelah mereka berhukum dengan perkataan Si A dan Si B walaupun perkataan tersebut menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (lihat Ta’wilu Mukhtalifil Hadits hal 73-74). &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Abul Qosim Al-Ashbahani Rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya jalan yang lurus bersama Ahlul Hadits, dan kebenaran adalah apa yang mereka riwayatkan dan yang mereka nukil.” (lihat al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah karya Abul Qoshim Al Ashbahani: 2/223, dengan sedikit ringkasan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Abul Qosim Al-Ashbahani Rahimahullahu juga berkata: “Kebenaran yang di dakwahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah suatu yang kita yakini dan kita jadikan manhaj, akan tetapi Allah tidak menghendaki kebenaran dan aqidah yang murni melainkan bersama Ahlul Hadits dan Atsar, karena mereka mengambil agama dan akidah mereka dari kholaf (ulama’ yang datang setelah salaf) ke salaf (ulama’ yang terdahulu), dari generasi ke generasi, sampai kepada Tabi’in, dan Tabi’in mengambil agama dari Sahabat Nabi n, para Sahabat mengambil agama dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka tidak ada jalan untuk mengetahui apa yang didakwahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada manusia dari agama yang murni dan jalan lurus kecuali dengan jalan yang dilalui oleh Ahlul Hadits. Adapun seluruh golongan-golongan (sesat) mereka mencari agama dari jalan yang salah.” (lihat al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah karya Abul Qoshim Al-Ashbahani: 2/223, dengan sedikit ringkasan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;4. Sebaik-baik manusia adalah Ahlul Hadits.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Imam Syafi’i Rahimahullahu berkata:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” إ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;ِ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;ذَا رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ فَكَأَنِّي رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;“. وَقَالَ الشَافِعِيُّ أَيْضًا : ” لَوْلاَ أَصْحَابُ الْحَدِيْثِ لَكُنَّا بُيَّاعُ الفُولِ “.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Jika aku melihat seorang dari Ahlul Hadits, maka seakan-akan aku melihat seorang dari Sahabat Nabi n.” Imam Syafi’i Rahimahullahu &lt;span&gt; &lt;/span&gt;juga berkata: “Kalau saja bukan karena Ahlul Hadits, sungguh kita menjadi penjual kacang!.” (Atsar Shohih, HR. Al-Harowi di kitab Dzammul Kalam: 387, Al-Baihaqi di Manaqibi Asy-Syafi’i: 1/477). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Imam Ahmad Rahimahullahu juga berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” لَيْسَ قَوْمٌ عِنْدِي خَيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ، لَيْسَ يَعْرِفُوْنَ إِلاَّ الْحَدِيْثَ “. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Tidak ada kaum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;yang lebih baik disisiku dari Ahlul Hadits, mereka tidak mengetahui sesuatu melainkan Hadits.” (Atsar Shohih, diriwayatkan Khotib Baghdadi di kitab Syarofu Ashabil Hadits: 95).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Dari Za’faroni Rahimahullahu berkata: “Tidak ada kaum dimuka bumi yang lebih mulia dari pembawa tinta (yaitu Perowi Hadits yang selalu membawa pena untuk menulis Hadits,-pent), mereka mencari atsar-atsar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mencatatnya supaya tidak hilang.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits:331).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Yahya bin Aktsam Rahimahullahu berkata: Harun Ar-Rosyid berkata kepadaku: “Kedudukan apakah yang paling mulia? Aku berkata: Kedudukan anda wahai Amirul Mukminin. Dia berkata: Tahukah engkau siapa yang kedudukannya lebih mulia dariku? Aku berkata: Aku tidak tahu. Dia berkata: Tapi aku mengetahuinya; dia adalah orang yang berada di suatu majelis dan berkata: Si Fulan memberitahukan dari Si Fulan dari Si Fulan, lalu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda. Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin! Bagaimana dia lebih baik dari anda, sedangkan anda anak paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (keturunan paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang bernama Abbas bin Abdul Muttholib z, -pen) dan pemimpin kaum muslimin? Dia berkata: Ya, celaka engkau, dia lebih baik dariku karena namanya disebut beserta nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dia tidak mati selamanya, sedangkan kita mati dan binasa, sedangkan Ulama’ selalu ada (dikenang) sepanjang masa.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;(lihat Syarofu Ashabil Hadits: 219).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Diriwayatkan dari Ibrohim bin Adham dan Salm Al-Khowwash dan Yusuf bin Asbath Rahimahullahu mereka berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” إ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;ِ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;نَّ اللهَ يَدْفَعُ البَلاَءَ عَنْ أَهٍلِ الأَرْضِ بِأَصْحَابِ الْحَدِيْثِ “.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;“Sesungguhnya Allah menahan bencana yang menimpa penduduk bumi dengan Ahlul Hadits.” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;(lihat Syarofu Ashabil Hadits:121, Dzammul Kalam karya Al Harowi: 838-840). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Ketika Utsman bin Abi Syaibah Rahimahullahu melihat sebagian Ahlul Hadits berubah, ia berkata: “Sesungguhnya orang yang fasik dari mereka lebih baik daripada ahli ibadah dari selain mereka.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;: 98,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; Dzammul Kalam karya Al Harowi: 96). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Dikatakan kepada Hafs bin Giyats Rahimahullahu: Tidakkah kamu melihat (sebagian) Ahlul Hadits bagaimana mereka berubah?! Bagaimana mereka rusak?! Maka ia berkata: “Walau demikian, mereka adalah manusia pilihan.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;: 94).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;5. Mereka adalah manusia yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Telah diketahui&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; bahwasanya Ahlul Hadits dan Sunnah adalah manusia yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan pengikutnya. Mereka mendapatkan karunia dari Allah dan kemuliaan dengan ilmu dan akal yang bersih serta pahala yang berlipat ganda yang tidak terdapat pada selain mereka.” (lihat Majmu’ Fatawa: 4/140).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt;Siddiq Hasan Khon Rahimahullahu berkata: “Tidak diragukan lagi bahwasanya kaum muslimin yang paling banyak bersholawat kepada Nabi n adalah Ahlul Hadits para perowi Sunnah yang suci, mereka mengemban ilmu yang mulia ini (sehingga merekapun) bersholawat di depan setiap Hadits, lisan mereka selalu basah dengan menyebutnya (nama Nabi dan bersholawat kepada beliau n). Maka inilah golongan yang selamat, jama’ah Hadits, manusia yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hingga datang hari kiamat, dan manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atnya&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(Nabi n) –aku menebusnya dengan ayah dan ibuku-, maka tidak ada seorangpun yang menyamai keutamaan ini kecuali orang yang datang dengan amalan yang lebih baik dari mereka. Adapun selain mereka hanyalah sang pembual. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;(lihat Sifat Sholat Nabi karya Syaikh Albani Rahimahullahu hal-176).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;هذا وصلّى الله على محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Verdana','sans-serif';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Diterjemahkan dari Majalah Al-Istiqomah, hal: 2-3, edisi ke 8 bulan Robi’uts Tsani tahun 1425 H/ Mei 2004 M, oleh: Abu Yusuf Ahmad Jamil bin Muhammad Alim As Salafy. Dicuplik dari Majalah ilmiah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6098632568607559611-1432135615828625181?l=ibnuakhir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/feeds/1432135615828625181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6098632568607559611&amp;postID=1432135615828625181' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1432135615828625181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6098632568607559611/posts/default/1432135615828625181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnuakhir.blogspot.com/2008/03/siapakah-ahlul-hadits.html' title='Siapakah Ahlul Hadits'/><author><name>Ahlus_Sunnah Wal Jama'ah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690768255092500511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
